CIREBON — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi mulai mematangkan kesiapan lokasi penunjukan tuan rumah perhelatan akbar Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35. Kabupaten Cirebon kini mencuat sebagai salah satu kandidat paling potensial setelah tim gabungan dari Steering Committee (SC) dan Organizing Committee (OC) PBNU turun langsung melakukan verifikasi faktual ke sejumlah pondok pesantren besar di wilayah tersebut pada Sabtu, 4 Juli 2026.
Langkah proaktif PBNU ini ditandai dengan peninjauan komprehensif ke tiga lembaga pendidikan Islam legendaris yang memiliki rekam jejak mumpuni dalam mengelola kegiatan berskala nasional, yakni Pondok Buntet Pesantren, Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, dan Pondok Pesantren Kempek. Kunjungan strategis tersebut bertujuan untuk memvalidasi ketersediaan sarana, prasarana, serta daya dukung infrastruktur wilayah demi menyukseskan forum tertinggi organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia ini.
Katib Syuriyah PBNU, KH Abu Yazid Al-Busthami, menegaskan bahwa survei lapangan ini dilakukan dengan standar evaluasi yang sangat ketat dan menyeluruh. Fokus utama tim tidak hanya tertuju pada ruang utama persidangan, melainkan juga mencakup aspek logistik makro, seperti jaringan aksesibilitas transportasi, kapasitas hunian atau akomodasi, hingga pola mobilitas massa. Pertimbangan matang ini diambil mengingat Muktamar NU ke-35 diproyeksikan bakal menyedot kehadiran sekitar 5.000 hingga 6.000 delegasi resmi, belum termasuk luapan ribuan warga Nahdliyin dari seantero negeri yang dipastikan ikut membanjiri lokasi acara.
Baca Juga:Rieke Diah Pitaloka Dorong Kepastian Hukum dan HAM dalam Pelaksanaan KDKMPPasar Emas Stagnan di Awal Pekan, Simak Update Harga Antam dan Pegadaian 6 Juli 2026
“Kami melaksanakan verifikasi ini untuk memastikan seluruh aspek kesiapan lokasi benar-benar matang, mulai dari integrasi transportasi, kapasitas akomodasi, hingga akses penunjang lainnya. Skala perhelatan ini sangat besar karena akan menghadirkan ribuan peserta serta tamu undangan VIP dari berbagai daerah di Indonesia,” ujar KH Abu Yazid Al-Busthami saat ditemui di sela-sela peninjauan.
Kendati memberikan sinyal positif, KH Abu Yazid meluruskan bahwa hasil dari rangkaian peninjauan lapangan ini belum bersifat mengikat atau final. Seluruh data dan temuan otentik dari tiga pesantren di Kabupaten Cirebon tersebut akan dihimpun terlebih dahulu menjadi dokumen laporan resmi, yang selanjutnya diserahkan kepada panitia pusat untuk dievaluasi secara kolektif bersama dengan opsi-opsi daerah kandidat lainnya.
