“Kami di tim survei tidak dalam kapasitas mengambil keputusan final untuk satu lokasi tertentu. Di Kabupaten Cirebon sendiri ada tiga pesantren yang kami amati secara mendalam. Tugas utama kami adalah memotret kondisi riil di lapangan secara objektif dan menjadikannya bahan pertimbangan strategis bagi panitia pusat dalam rapat pleno mendatang,” tambah KH Abu Yazid.
Berdasarkan catatan awal hasil observasi, Pondok Buntet Pesantren dinilai menonjol dengan pemenuhan sejumlah kriteria teknis kelayakan utama. Beberapa fasilitas inti yang mendapat atensi khusus dari tim verifikator meliputi keberadaan aula pertemuan representatif dengan daya tampung masif untuk pelaksanaan sidang pleno, area kantong parkir yang luas, kompleks penginapan santri dan pengasuh yang memadai, serta ketersediaan lapangan terbuka yang sangat ideal untuk upacara pembukaan maupun panggung syiar massal.
KH Abu Yazid menguraikan bahwa Pondok Buntet Pesantren memiliki modalitas fasilitas yang relatif matang dan teruji waktu. Bahkan, infrastruktur lapangan terbuka di lingkungan pesantren tersebut telah terbiasa menyelenggarakan agenda kenegaraan berskala besar, termasuk menerima kunjungan resmi jajaran menteri hingga Wakil Presiden Republik Indonesia.
Baca Juga:Rieke Diah Pitaloka Dorong Kepastian Hukum dan HAM dalam Pelaksanaan KDKMPPasar Emas Stagnan di Awal Pekan, Simak Update Harga Antam dan Pegadaian 6 Juli 2026
“Untuk keperluan sidang pleno, fasilitas gedung pertemuan yang ada sudah sangat memadai dari segi luasan. Apabila dinamika forum membutuhkan perluasan kapasitas, pesantren ini memiliki area lapangan luas yang secara historis sering digunakan untuk acara-acara besar kenegaraan, termasuk saat menyambut kunjungan resmi Wakil Presiden,” jelasnya.
Merespons besarnya peluang ini, Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cirebon, KH Wawan Arwani, menyuarakan optimisme sekaligus komitmen total seluruh jajaran struktural dan kultural di wilayahnya jika kelak PBNU menjatuhkan pilihan resmi ke Cirebon. Ia memandang bahwa kehadiran tiga poros pesantren besar—Buntet, Kempek, dan Babakan Ciwaringin—adalah sebuah sinergi kekuatan tiada tanding yang menjamin kesiapan sumber daya manusia maupun jaringan logistik lokal.
“Kami dari PCNU Kabupaten Cirebon menyatakan kesiapan lahir dan batin apabila amanah menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35 dipasrahkan di sini. Kami memiliki tiga pilar pesantren alternatif, yakni Buntet, Kempek, dan Babakan Ciwaringin yang semuanya berada pada posisi siaga penuh. Demi muruah dan khidmah kepada Nahdlatul Ulama, insya Allah tidak ada kata tidak siap,” tegas KH Wawan Arwani dengan penuh optimisme.
