CIREBON – Puncak kekecewaan masyarakat terhadap buruknya infrastruktur di Kabupaten Cirebon akhirnya meledak. Warga dari empat desa, yakni Desa Mertapada Kulon, Sidamulya, Munjul, dan Gemulungtonggoh, melayangkan protes keras atas kerusakan parah yang melanda ruas jalan Mertapada–Gemulungtonggoh selama bertahun-tahun tanpa ada upaya perbaikan nyata dari pemerintah daerah.
Jalan yang menjadi urat nadi penghubung utama antara Kecamatan Greged dan Kecamatan Astanajapura tersebut kini dalam kondisi memprihatinkan. Pantauan di lapangan menunjukkan lubang-lubang raksasa menganga dengan kedalaman mencapai 30 hingga 40 sentimeter. Selain aspal yang mengelupas dan permukaan jalan yang bergelombang tajam, ruas ini berubah menjadi kubangan lumpur licin saat hujan, namun menebar polusi debu pekat yang mengancam pernapasan warga saat musim kemarau.
Koordinator Forum Peduli Mertapada, Daud, menegaskan bahwa kesabaran warga telah mencapai batas akhir. Ia menilai pemerintah daerah telah bersikap diskriminatif terhadap hak-hak dasar warga di wilayah tersebut.
Baca Juga:Jawa Barat Jadi Pilot Project Nasional Penanganan TPPO, DP3AKB Perkuat Kolaborasi Lintas LembagaTerjebak Iming-Iming Lolos Seleksi Sepak Bola, Dua Remaja Lampung Dicabuli Sopir Travel di Cirebon
“Cukup sudah. Kami tidak akan lagi mentoleransi pengabaian ini. Jalan layak adalah hak dasar kami sebagai warga negara yang patuh membayar pajak. Jalan ini sudah memakan banyak korban kecelakaan, dan kami menuntut perbaikan total dilakukan tahun ini juga,” tegas Daud dengan nada bicara tinggi, Kamis (30/4/2026).
Sebagai bentuk perlawanan simbolis, puluhan spanduk bernada satir dan sindiran tajam kini menghiasi sepanjang ruas jalan yang rusak. Tulisan seperti “Dalan Kapan Berese” (Kapan Jalan Selesai), “Dana Wis Cair Dalan Tetep Rusak” (Dana Sudah Cair Jalan Tetap Rusak), hingga sindiran “Wahana Jalan Burak Gratis untuk Umum” menjadi potret keputusasaan sekaligus kritik pedas warga terhadap kinerja birokrasi.
Ancam Keselamatan Ibu Hamil hingga Akses Pendidikan
Senada dengan Daud, Koordinator Aliansi Peduli Cirebon Selatan (ASPECS), Ipoel, menyoroti aspek keselamatan pengguna jalan yang kian terancam. Ia mengungkapkan bahwa pengendara terpaksa melakukan manuver berbahaya atau “zig-zag” demi menghindari lubang, yang seringkali berujung pada kecelakaan, terutama saat malam hari karena minimnya penerangan.
“Sudah puluhan korban berjatuhan. Bahkan bulan lalu, seorang ibu hamil terjatuh dari sepeda motor akibat terperosok. Apakah pemerintah harus menunggu adanya korban jiwa baru tergerak untuk memperbaiki?” cetus Ipoel.
