CIREBON – Proyek revitalisasi Pasar Palimanan yang semula digadang-gadang mampu menggeliatkan roda ekonomi di Kabupaten Cirebon, kini justru menghadapi realita pahit. Bukannya menjadi motor penggerak Pendapatan Asli Daerah (PAD), aktivitas perdagangan di pasar rakyat ini justru lesu hingga menyebabkan ratusan pedagang memilih angkat kaki.
Berdasarkan data Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Cirebon, fenomena eksodus pedagang ini telah mencapai angka yang mengkhawatirkan. Perubahan perilaku konsumen dan desain bangunan fisik disinyalir menjadi biang kerok utama yang membuat denyut nadi pasar ini kian melemah.
Ratusan Lapak Kosong dan Potensi Kerugian Retribusi
Kepala Bidang Sarana dan Pelaku Distribusi Disperdagin Kabupaten Cirebon, Teguh Mulyono, mengungkapkan bahwa tingkat hunian pasar saat ini berada di bawah 50 persen. Dari total 581 pedagang yang terdata, hanya 214 pedagang yang masih bertahan menjajakan dagangannya, sementara 367 lainnya memilih menutup toko, los, hingga lapak mereka.
Baca Juga:Terganjal Perda DTA, Pemkab Cirebon Pastikan SD Belum Bisa Terapkan Sekolah Lima HariCanggih, Polisi Ringkus Pencuri Motor asal Cilacap di Cirebon Berkat Sinyal GPS
Kondisi ini berdampak langsung pada kantong daerah. Disdagin mencatat adanya potensi kehilangan pendapatan retribusi harian yang cukup signifikan.
”Berkurangnya jumlah pedagang aktif secara otomatis memangkas penerimaan retribusi harian. Kami memperkirakan potensi kehilangan pendapatan mencapai Rp500 ribu hingga Rp600 ribu setiap harinya,” ujar Teguh saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Rabu (29/4/2026).
Ikon Toko Emas Pilih Hengkang ke Ruko Swasta
Salah satu fenomena paling mencolok adalah kepindahan massal 35 pedagang emas yang selama ini menjadi ikon kebanggaan Pasar Palimanan. Alih-alih menempati kios di dalam pasar dengan tarif retribusi yang lebih terjangkau, para pengusaha perhiasan ini justru memilih menyewa ruko di seberang pasar.
”Padahal secara hitung-hitungan, beban retribusi di dalam pasar jauh lebih murah. Namun, lesunya kunjungan pembeli menjadi alasan pragmatis bagi mereka untuk keluar demi menjemput bola di lokasi yang lebih strategis,” tambahnya.
Dilema Desain Dua Lantai dan Budaya Belanja Daring
Persoalan fisik bangunan turut menjadi kendala non-teknis. Teguh mengakui bahwa desain dua lantai yang diterapkan—sebagai konsekuensi mundurnya bangunan pasar sejauh 17 meter dari badan jalan—kurang diminati konsumen. Mayoritas pengunjung pasar rakyat yang didominasi kalangan usia menengah ke atas cenderung enggan naik ke lantai dua.
