Selain masalah fisik, hantaman digitalisasi juga tak terelakkan. “Tren masyarakat saat ini lebih nyaman belanja online. Ini tantangan serius bagi pasar tradisional. Pedagang dituntut harus bisa berinovasi agar tetap bisa bersaing dengan pasar digital,” jelas Teguh.
Upaya Menghidupkan Pasar yang Belum Maksimal
Disdagin Kabupaten Cirebon sebenarnya tidak tinggal diam. Berbagai langkah promosi telah dilakukan untuk menarik minat warga, mulai dari penyelenggaraan senam massal, layanan pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) di lokasi pasar, hingga lomba mewarnai anak-anak.
Namun, upaya tersebut seolah membentur tembok tinggi. Polemik penempatan pedagang pun mencuat saat pihak Disdagin memberikan relaksasi bagi pedagang lantai atas untuk berjualan di lantai bawah selama bulan Ramadan lalu.
Baca Juga:Terganjal Perda DTA, Pemkab Cirebon Pastikan SD Belum Bisa Terapkan Sekolah Lima HariCanggih, Polisi Ringkus Pencuri Motor asal Cilacap di Cirebon Berkat Sinyal GPS
”Setelah masa Ramadan berakhir, kami meminta pedagang kembali ke lantai atas sesuai plot semula, namun sebagian besar menolak. Ini menjadi dilema bagi kami di lapangan,” tutur Teguh.
Meskipun area depan dan lantai atas nampak lengang, Teguh menekankan bahwa aktivitas jual beli di bagian belakang pasar sebenarnya masih tergolong normal. Disperdagin kini terus mengkaji strategi baru agar fasilitas representatif yang telah dibangun dengan dana besar tersebut tidak berakhir menjadi bangunan mangkrak yang ditinggalkan penghuninya. (rif/dbs)
