Legenda “Menagih Tumbal” di Cisanggarung: Antara Deret Korban dan Arus yang Tak Kasat

Cisanggarung
Sungai Cisanggarung yg tenang sekaligus ganas.
0 Komentar

Oleh Hasan Jay (Pemred Jabarpublisher.com)

DI sepanjang tepian Sungai Cisanggarung, cerita tentang “tumbal” tidak pernah benar-benar hilang. Ia bukan sekadar bisik-bisik, melainkan narasi yang tumbuh dari peristiwa nyata—orang-orang yang hilang, terseret arus, ditemukan berhari-hari kemudian, atau tak pernah kembali sama sekali.

Dalam beberapa tahun terakhir, jejak peristiwa itu membentuk pola yang membuat masyarakat semakin percaya: sungai ini bukan sekadar berbahaya, tetapi seolah memiliki “ritme korban” yang berulang.

Peristiwa terbaru terjadi pada April 2026. Dua pelajar SMP asal Kecamatan Babakan hilang saat berenang di aliran Sungai Cisanggarung di wilayah Waled. Mereka terseret arus saat mencoba berenang ke bagian tengah yang lebih dalam. Dua temannya berhasil selamat, tetapi keduanya hilang dari pandangan dalam hitungan detik—ditelan arus bawah yang tak terlihat. Belakangan tersiar kabar, sang penunggu katanya meminta “dua bebek”.

Baca Juga:Pajak Mobil Listrik Tak Naik, Purbaya: Hanya Geser Komponen, Totalnya SamaBahan Bakar B50 akan Mulai Uji Coba di Juli 2026, Begini Rencana Pemerintah Soal Harganya

Kejadian seperti ini bukan yang pertama. Itu hanya satu bab dari rangkaian panjang.

Pada 2025, tim SAR kembali harus menyisir aliran sungai yang sama untuk mencari korban tenggelam. Dalam kasus itu, korban akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah pencarian dilakukan intensif oleh tim gabungan.

Setahun sebelumnya, 2023, seorang lansia bernama Sarka dilaporkan hanyut di Sungai Cisanggarung. Pencarian berlangsung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Jasadnya baru ditemukan setelah hampir satu bulan, dalam kondisi terbawa jauh oleh arus sungai.

Pada 2022, seorang warga bernama Farid meninggal setelah tenggelam lebih dari satu jam di aliran sungai tersebut. Sementara di tahun-tahun sebelumnya, laporan serupa terus bermunculan—mulai dari anak-anak yang berniat menolong temannya, hingga warga yang terseret saat beraktivitas di sungai.

Bahkan lebih jauh ke belakang, pada 2021, seorang perempuan bernama Daswi dilaporkan hilang dan belum ditemukan saat pencarian dilakukan. Kisah seperti ini—hilang tanpa jejak—menjadi bagian yang paling menguatkan narasi mistis di masyarakat. Serupa dengan kejadian seorang anak di Losari yang sengaja terjun dari jembatan saat arus Cisanggarung mengamuk. Jasadnya hingga kini tak pernah ditemukan.

0 Komentar