JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah memasuki tahap finalisasi perhitungan harga untuk bahan bakar biodiesel dengan campuran 50 persen minyak sawit atau yang dikenal dengan B50. Program ini dijadwalkan mulai bergulir pada 1 Juli 2026 mendatang.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi mengungkapkan bahwa besaran harga B50 nantinya akan mengikuti formula yang telah tertuang dalam regulasi. Setiap bulan, pemerintah akan menerbitkan harga patokan guna memberikan kepastian bagi konsumen maupun pelaku usaha di lapangan. “Mengikuti formula. Kalau itu mengikuti formula, kan tiap bulan kita keluarkan harganya,” ujarnya saat ditemui di kawasan Lembang, Rabu (22/4/2026).
Eniya menjelaskan bahwa pihaknya saat ini masih berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) untuk merinci komponen penghitungan bahan bakar nabati atau FAME (Fatty Acid Methyl Ester). Menurutnya, prediksi kebutuhan hingga Desember nanti masih perlu diklarifikasi lebih lanjut, terutama terkait potensi penghematan dari sisi minyak. “Kita sedang berhitung dengan Dirjen Migas. Karena prediksi hingga Desember itu perlu diklarifikasi, misal ada penghematan, ada pembahasan terus nih kalau yang minyak,” lanjutnya.
Baca Juga:Gaji Ribuan Guru Honorer Macet, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Segera Temui Menpan RB Cari SolusiMenko PMK dan Kang Dedi Soroti Paradoks Pengangguran: Dorong Vokasi Berbasis Inovasi dan Kearifan Lokal
Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, implementasi B50 diproyeksikan membawa manfaat ekonomi yang signifikan bagi negara, khususnya melalui peningkatan nilai tambah crude palm oil (CPO). Dari perspektif fiskal, kebijakan ini berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp 157,28 triliun sepanjang tahun 2026. Angka tersebut melonjak dibandingkan target awal program B40 yang hanya sebesar Rp 140 triliun.
Soal ketersediaan bahan baku, Eniya optimistis pasokan FAME dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan implementasi yang dimulai Juli mendatang. “Pasokan tadi kan saya bilang kita sedang berhitung terus, tapi cukup, kalau saya prediksi, cukup FAME-nya cukup,” tuturnya saat ditanya kesiapan di balik target pemerintah.
Pemerintah sendiri menargetkan uji coba awal B50 dimulai pada Juli 2026, seiring dengan dinamika energi global yang terus berubah serta upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Eniya menambahkan bahwa target pengurangan impor secara hitungan kasar mencapai 50 persen. “Sekarang itu serapan biodiesel kira-kira 25 persen sudah terserap,” pungkasnya. (red)
