​”Dapur yang di-suspend secara permanen ini tidak lagi mendapat pembayaran. Kalau dulu ditutup sementara masih ada pembayaran, sekarang sudah ditutup permanen dan tidak akan dibayar sama sekali karena ini murni pelanggaran tata kelola. Kami sebenarnya sudah memberikan tenggat waktu perbaikan, tetapi peringatan tersebut tidak diindahkan,” tegas Sudaryono.
​Guna menjaga kelangsungan program Makan Bergizi Gratis (MBG), BGN memastikan bahwa penutupan ratusan SPPG bermasalah tidak akan memutus hak anak-anak atau peserta didik. Porsi layanan dan kuota distribusi makanan dari dapur yang ditutup akan secara otomatis dialihkan ke dapur-dapur penerima standar di sekitar lokasi sekolah terdampak.
​Sudaryono kembali mengingatkan seluruh pengelola dapur SPPG agar memegang teguh esensi utama dari program nasional ini. Ia menekankan bahwa prioritas tertinggi adalah standar gizi, kebersihan, dan keselamatan makanan.
Baca Juga:Urai Kepadatan Lalu Lintas di Cirebon Timur, Polisi Puji Pentingnya Sinergi Industri dan MasyarakatLogo Hari Jadi Kabupaten Bekasi ke-76 Resmi Diluncurkan, Simbol Kolaborasi Menuju Daerah yang Lebih Maju
​”Sekali lagi, ini namanya Makan Bergizi Gratis, bukan sekadar makan enak atau makan banyak gratis. Mencukupkan kebutuhan gizi adalah tolok ukur utamanya. Kami ingin menunya tersaji dengan baik, nutrisinya terpenuhi, dan perputaran ekonomi lokal di sekitarnya tetap berjalan,” pungkasnya. (red/dbs)
