KUNINGAN — Ancaman serius terhadap kelestarian ekosistem hutan kembali terjadi di wilayah Jawa Barat bagian timur. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) di Kabupaten Kuningan kian meluas dan telah menghanguskan kawasan hutan hingga mencapai luasan puluhan hektare.
Dari perspektif mitigasi bencana lingkungan, insiden ini kembali menguji ketahanan ekologis serta kesiapsiagaan lintas instansi dalam menghadapi musim kemarau ekstrem. Kawasan hutan lindung yang berfungsi sebagai penyangga utama hidrologi dan paru-paru hijau di wilayah Cirebon dan sekitarnya kini berada dalam status pengawasan ketat, menyusul dinamika cuaca dan tiupan angin kencang yang mempercepat pergerakan api.
Berdasarkan peninjauan langsung di lapangan, titik api diketahui pertama kali muncul dari kawasan Blok Cileutik sebelum akhirnya merambah ke sejumlah blok hutan lainnya. Pemerintah daerah bersama tim gabungan penanggulangan bencana terus berjibaku melakukan penyekatan api dan pendinginan secara intensif guna mencegah perluasan dampak kerusakan lingkungan.
Baca Juga:Tarif Parkir SOR Watubelah Disorot, Jigus Minta MaafTerobosan Baru Inklusi Keuangan: Warga Berusia 17 Tahun Akan Otomatis Miliki Rekening Bank Berbasis NIK
Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, saat meninjau langsung lokasi terdampak menyampaikan bahwa luas area yang dilalap si jago merah berdasarkan laporan mutakhir telah menyentuh angka kurang lebih 40 hektare. Kendati demikian, ia mengonfirmasi bahwa penanganan oleh tim di lapangan mulai menunjukkan progres positif dengan padamnya api di beberapa titik.
“Sekarang berdasarkan laporan, sudah sekitar kurang lebih 40 hektare area yang terbakar. Namun sampai perkembangan hari ini, sudah mulai padam di beberapa titik,” ujar Bupati Dian.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa operasi pemadaman dan pencegahan yang dilakukan oleh petugas gabungan di lapangan turut diuji oleh faktor cuaca ekstrem. Hembusan angin yang bertiup cukup kencang dalam beberapa hari terakhir membuat pergerakan api menjadi sangat dinamis dan sulit diprediksi. Kondisi ini bahkan memicu celah kerawanan baru, di mana api berpotensi melompati rintangan pembatas yang telah dipersiapkan oleh tim pemadam.
“Kita lihat ke arah atas, teman-teman juga mungkin ada yang membuat sekat bakar, tapi ini rawan karena angin besar di Kuningan hari-hari ini, jadi api itu menyeberang, melompat,” tambahnya.
