Dirinya juga mengaku sangat optimistis bahwa rekam jejak kesuksesan masa lalu akan mempermudah jalannya koordinasi lintas sektoral, pemenuhan infrastruktur, hingga manajemen teknis pelaksanaan di lapangan. Lebih lanjut, mantan Wakil Gubernur Jawa Timur ini mengajak seluruh jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di seluruh penjuru tanah air untuk bersatu padu menyukseskan agenda ini. Baginya, kesuksesan Muktamar ke-35 bukan hanya bertumpu pada pundak panitia, melainkan menjadi tanggung jawab kolektif seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama.
Sebelum keputusan final ini diambil, PBNU tercatat telah melakukan proses seleksi yang ketat dan tidak instan. PBNU sebelumnya menerjunkan Tim Survei Lokasi Muktamar yang bekerja maraton pada 4 hingga 5 Juli 2026. Tim independen tersebut melakukan peninjauan mendalam terhadap sembilan pondok pesantren potensial yang tersebar di lima provinsi strategis, meliputi Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sumatera Barat.
Setiap kandidat lokasi dinilai secara komprehensif berdasarkan berbagai indikator baku, mulai dari daya tampung atau kapasitas pesantren, kesiapan sarana prasarana, aksesibilitas transportasi, ketersediaan akomodasi, hingga rekam jejak dalam mengelola acara berskala nasional. Di Jawa Timur sendiri, persaingan ketat sempat mengerucut pada dua raksasa pesantren, yakni Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri dan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas di Jombang. Bahkan, sempat mencuat wacana opsi hibrida di mana pembukaan dilakukan di Tambakberas sementara sidang komisi dipusatkan di Lirboyo. Namun, atas pertimbangan teknis terpadu dan efisiensi, PBNU akhirnya menjatuhkan pilihan tunggal pada Tambakberas.
Baca Juga:Meluruskan Polemik Provinsi Sunda, Ketua DPRD Jabar: Kami Baru Setuju Membahas AspirasiAbaikan Permohonan Informasi Publik, Pemdes Playangan Terancam Digugat ke Komisi Informasi
Di sisi lain, Rais ‘Aam PBNU KH Miftahul Akhyar menyelipkan pesan spiritual yang mendalam kepada seluruh pengurus menjelang akhir masa khidmah kepengurusan periode ini. Beliau mengingatkan bahwa sisa waktu yang ada harus dioptimalkan untuk pengabdian yang tulus dan menjaga soliditas organisasi demi kemaslahatan umat.
“Alhamdulillah, jika diibaratkan, nyawa kita kurang 20 hari lagi sudah ada di tenggorokan. Kita dahulu masuk sebagai pengurus NU dengan cara yang baik, berniat (nawaitu) murni untuk berkhidmah kepada NU. Tentu kewajiban kita sekarang adalah mempertahankan niat mulia ini hingga akhir. Tinggal beberapa hari lagi, semoga kita semua bisa bertahan dan memperoleh akhir yang baik atau husnul khatimah dalam berorganisasi. Semoga keputusan yang kita ambil malam ini mendapat rida Allah SWT,” tutur KH Miftahul Akhyar dengan penuh takzim.
