CIREBON – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Waled Kabupaten Cirebon mulai memantapkan langkah strategis menjelang proses reakreditasi rumah sakit yang dijadwalkan berlangsung pada tahun 2026. Sebagai langkah konkret guna mendongkrak mutu pelayanan, manajemen rumah sakit menggelar program inhouse training (pelatihan internal) masif yang melibatkan seluruh elemen sumber daya manusia (SDM), mulai dari jajaran direksi, tenaga kesehatan, hingga petugas keamanan.
Langkah ini diambil demi memperkuat budaya mutu dan keselamatan pasien secara menyeluruh di lingkungan RSUD Waled. Pihak manajemen menegaskan bahwa peningkatan kompetensi ini tidak lagi dilakukan secara parsial, melainkan menyasar seluruh pegawai tanpa terkecuali, guna memastikan kesiapan penuh dalam menghadapi penilaian eksternal tersebut.
Direktur RSUD Waled, dr. Deni Wirhana Surjono, menegaskan bahwa pencapaian akreditasi tertinggi bukanlah beban yang hanya dipikul oleh jajaran tenaga medis. Menurutnya, setiap elemen yang bergerak di dalam rumah sakit memegang peranan krusial dalam rantai pelayanan publik.
Baca Juga:PNM Green Impact: Bukan Sekadar Penghijauan, 200 Pohon Ini Disiapkan Jadi Sumber Manfaat WargaGabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia Tak Terima MBG Dihentikan Saat Liburan
“Akreditasi bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga medis, tetapi seluruh unsur yang ada di rumah sakit. Karena itu, seluruh SDM sengaja kami libatkan agar memiliki pemahaman dan frekuensi yang sama dalam memberikan pelayanan yang aman, berkualitas, dan berorientasi pada kepuasan pasien,” ujar dr. Deni saat memberikan keterangan resmi di sela-sela kegiatan.
Melalui pelatihan internal ini, manajemen RSUD Waled ingin memastikan setiap regulasi dan standar akreditasi terbaru dapat dipahami dan diimplementasikan secara riil. Di samping itu, momentum pelatihan ini dimanfaatkan sebagai sarana mempererat koordinasi antarunit kerja serta mengikis ego sektoral demi membangun budaya kerja yang berfokus pada keselamatan pasien.
Bagi tenaga kesehatan seperti dokter dan perawat, materi pelatihan difokuskan pada penguatan klinis dan mitigasi. Materi tersebut mencakup peningkatan mutu pelayanan, Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), manajemen risiko klinis, pelaporan insiden keselamatan, komunikasi efektif, hingga kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) saat melakukan tindakan medis.
Tidak kalah penting, tenaga nonmedis dan staf administrasi juga mendapatkan pembekalan intensif mengenai aspek pelayanan prima (service excellence). Mereka dilatih dalam hal manajemen risiko fasilitas, prosedur evakuasi tanggap darurat bencana, hingga tata cara penyampaian informasi serta pendampingan yang empatis kepada pasien maupun keluarga yang berkunjung.
