Rupiah Siap Meroket? Simak 2 Pemicu Utama Penguatan di Tengah Sinyal Konsumen Mulai Lesu

nilai tukar rupiah
Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (11/8/2026) diprediksi masih akan menunjukkan dinamika tinggi
0 Komentar

JAKARTA – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (11/8/2026) diprediksi masih akan menunjukkan dinamika tinggi, namun memiliki kecenderungan untuk terus menguat. Sentimen positif yang mendorong apresiasi mata uang ini datang dari dua sisi, yaitu kepastian kepemimpinan baru di Bank Indonesia (BI) dan meredanya ketegangan geopolitik yang mempengaruhi harga energi global.

Mengutip data dari Investor Daily, pada penutupan Senin (10/8/2026) sore, rupiah berhasil melesat 142 poin atau setara 0,79 persen ke level Rp 17.755 per dolar AS. Angka ini merupakan perbaikan signifikan dibandingkan posisi akhir pekan lalu yang masih bertengger di Rp 17.897 per dolar AS.

Keyakinan pasar terhadap prospek mata uang Garuda kian kokoh setelah nama Destry Damayanti resmi diajukan sebagai calon tunggal pimpinan definitif BI kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Para pelaku pasar meyakini transisi kepemimpinan ini akan membawa stabilitas baru, sehingga pergerakan kurs diperkirakan akan berkisar di rentang Rp 17.700 hingga Rp 17.750 per dolar AS.

Baca Juga:Rampingkan Birokrasi BUMN, Presiden Prabowo Perintahkan Pemangkasan Anak-Cucu Perusahaan Pertamina hingga PLNLepas Kontingen Jamnas XII 2026, Ketua DPRD Kabupaten Cirebon Titip Misi Kehormatan Daerah

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa meskipun fluktuasi masih akan terjadi, momentum penguatan masih cukup terbuka lebar. “Untuk sesi perdagangan besok, kami melihat rupiah bergerak dinamis namun berpotensi menguat dengan target pergerakan di angka Rp 17.700 – Rp 17.750 per dolar AS,” ujarnya.

Meski prospek penguatan cukup cerah, Ibrahim mengingatkan adanya sinyal pelemahan dari sisi domestik. Bank Indonesia baru-baru ini melaporkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juli 2026 turun ke level 116,8, menyusut dari capaian Juni 2026 yang sebesar 117,8. Penurunan tipis ini dinilai cukup krusial karena konsumsi rumah tangga masih menjadi lokomotif utama ekonomi nasional.

“Walaupun terjadi penurunan, angka IKK masih bertahan di atas ambang batas optimis, yaitu 100. Ini berarti konsumen secara umum belum kehilangan kepercayaan, meski optimisme itu terus tergerus dalam tiga bulan terakhir. Kami harus mewaspadai tren ini karena jika berlanjut, daya beli masyarakat bisa terkikis,” tegas Ibrahim.

Ia menambahkan, jika pola penurunan keyakinan ini tidak segera berbalik arah, maka potensi pertumbuhan konsumsi di masa depan akan menghadapi tantangan berat. Rumah tangga diprediksi akan semakin berhemat dan lebih selektif dalam berbelanja. Karena itu, pergerakan IKK pada periode mendatang akan menjadi barometer penting untuk mengukur ketahanan sektor domestik di tengah tekanan ekonomi global.

0 Komentar