Dari sisi eksternal, kabar baik datang dari Timur Tengah. Harapan akan dibukanya kembali jalur Selat Hormuz—yang selama ini menjadi lintasan vital bagi seperlima pasokan minyak dunia—berhasil menekan kekhawatiran akan lonjakan inflasi energi. Kondisi ini secara otomatis meredam ekspektasi pelaku pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat, terlebih lagi data ketenagakerjaan AS terbaru menunjukkan hasil yang kurang menggembirakan.
“Ditambah dengan angka tenaga kerja yang lemah, ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan bunga pada beberapa bulan ke depan semakin memudar,” tambah Ibrahim.
Keyakinan tersebut diperkuat oleh data CME FedWatch Tool yang menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026 hanya berada di kisaran 42 persen. Selain itu, proyeksi inflasi tahunan AS juga menunjukkan tren mereda, dari 3,5 persen diperkirakan turun menjadi 3,4 persen, sementara inflasi inti (Core CPI) diprediksi melandai dari 2,6 persen ke posisi 2,5 persen. (red)
