Antisipasi Ancaman Banjir Rob, Puluhan Warga Tawangsari Bahu-membahu Perbaiki Tanggul Cisanggarung

Warga Tawangsari gotong royong menutup tanggul Cisanggarung
Foto ilustrasi warga desa Tawangsari, Kec. Losari, Kab. Cirebon bahu membahu menutup bagian tanggul sungai Cisanggarung yang bolong.
0 Komentar

CIREBON – Semangat gotong royong dan kepedulian kolektif kembali membuncah di pesisir Kabupaten Cirebon. Puluhan warga Desa Tawangsari, Kecamatan Losari, turun langsung ke lapangan untuk melakukan perbaikan darurat pada tanggul Sungai Cisanggarung yang kondisinya kian kritis akibat pengikisan air laut, Rabu (6/5/2026).

Aksi swadaya ini dipicu oleh kekhawatiran mendalam akan ancaman banjir rob yang kerap mengintai wilayah mereka. Mengingat debit air laut yang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir, warga berinisiatif melakukan langkah preventif guna mencegah jebolnya tanggul yang menjadi benteng terakhir permukiman mereka dari terjangan air pasang.

Dengan menggunakan peralatan seadanya, masyarakat bersama aparat desa tampak kompak mengangkut material berupa tanah dan batu. Mereka berjibaku di bawah terik matahari demi memperkokoh struktur tanggul yang sudah mengalami kerusakan cukup parah di beberapa titik krusial.

Baca Juga:Kemendikdasmen Pastikan Tak Ada Pemecatan Massal Guru Honorer di 2027Merger Dua BPR di Kab Cirebon Disepakati, Visi Penguatan Ekonomi atau Tambal Sulam Perbankan Daerah?

Kuwu (Kepala Desa) Tawangsari, Rojiki, yang memimpin langsung kegiatan tersebut menyatakan bahwa aksi ini murni merupakan bentuk solidaritas warga demi menjaga keselamatan lingkungan. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak bisa hanya berpangku tangan melihat kondisi alam yang kian mengancam.

“Kegiatan ini merupakan aksi swadaya murni dari masyarakat Tawangsari untuk mengantisipasi terjangan banjir rob yang volumenya kian membesar. Kondisi tanggul Sungai Cisanggarung saat ini memang sudah mengalami pengikisan serius akibat hantaman pasang air laut yang terjadi secara terus-menerus,” ujar Rojiki di sela-sela kegiatan.

Rojiki menambahkan bahwa kondisi infrastruktur pelindung sungai tersebut kini berada pada titik yang mengkhawatirkan. Menurutnya, jika penanganan darurat tidak segera dilakukan, risiko tanggul jebol sangat tinggi, yang dipastikan bakal menyebabkan air laut menginvasi area permukiman warga dalam sekejap.

Dalam proses pengerjaan secara manual tersebut, warga menargetkan pengurukan di sepanjang bibir sungai yang rawan ambrol. Meski keterbatasan alat menjadi kendala, namun cakupan area yang diperbaiki terbilang cukup luas untuk ukuran kerja bakti masyarakat.

“Perbaikan yang kami lakukan mencakup pengurukan material sepanjang kurang lebih satu kilometer. Kondisinya sudah sangat mendesak dan bersifat darurat. Jika dibiarkan lebih lama tanpa tindakan, keselamatan warga di sekitar bantaran sungai akan terancam,” tegasnya dengan nada serius.

0 Komentar