Harga Emas Mendadak Rontok Hampir 2%! Koreksi Biasa atau Sinyal Bahaya Baru? 

Harga Emas Mendadak Rontok Hampir 2%!
Harga Emas Mendadak Rontok Hampir 2%!
0 Komentar

JABARPUBLISHER.COM – Harga emas tiba-tiba tergelincir tajam dalam 24 jam terakhir, memicu tanda tanya besar di kalangan pelaku pasar. Setelah mencatat reli selama empat hari beruntun, harga emas dunia justru terkoreksi hingga hampir 2 persen dan turun dari posisi tertinggi dalam tiga pekan terakhir. Kondisi ini membuat investor bertanya-tanya, apakah ini sekadar aksi ambil untung atau ada faktor global yang lebih serius?

Pada Selasa (24/2/2026), harga emas di pasar internasional anjlok 1,6 persen ke level US$5.147,80 per troy ons. Penurunan harga emas tersebut sekaligus mematahkan tren kenaikan sebelumnya yang sempat menguat hingga 7,3 persen dalam empat sesi perdagangan. Tekanan berlanjut hingga menyeret harga emas mendekati area US$5.100 per troy ons.

Memasuki Rabu (25/2/2026) hingga pukul 06.26 WIB, harga emas dunia di pasar spot kembali melemah 0,33 persen ke posisi US$5.130,59 per troy ons. Koreksi ini terjadi di tengah penguatan dolar Amerika Serikat yang membuat emas semakin mahal bagi pemegang mata uang selain dolar.

Baca Juga:Kerugian Negara Rp2,1 Triliun, Harga Laptop Kemendikbudristek Disorot di Persidangan58% Dana Desa 2026 Dialokasikan untuk Kopdes Merah Putih dan Mobil Operasional

Indeks dolar AS (DXY) tercatat naik 0,18 persen ke level 97,88 setelah sebelumnya melemah dua hari berturut-turut. Kenaikan dolar AS kerap menjadi tekanan bagi harga emas karena logam mulia tersebut diperdagangkan dalam denominasi dolar. Ketika dolar menguat, daya tarik emas biasanya menurun.

“Harga emas sudah cenderung naik lagi, jadi saya menduga ini hanya koreksi penurunan,” ujar Jim Wyckoff, analis senior di Kitco Metals, seperti dikutip dari Reuters. Ia menambahkan bahwa penguatan dolar memang memberi dampak negatif terhadap harga, namun fundamental jangka panjang masih relatif kuat.

Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level tertinggi dalam tiga minggu usai Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan akan menaikkan tarif impor menjadi 15 persen menyusul putusan Mahkamah Agung yang menilai penggunaan undang-undang darurat untuk kebijakan tarif melampaui kewenangan. Namun pada Selasa, pemerintah AS akhirnya menerapkan tarif 10 persen untuk barang-barang yang tidak dikecualikan.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik juga masih membayangi pergerakan harga emas. Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan melanjutkan putaran ketiga pembicaraan nuklir di Jenewa pada Kamis. Hubungan kedua negara yang telah lama memanas membuat permintaan aset safe-haven seperti emas tetap terjaga.

0 Komentar