CIREBON — Warga di sejumlah desa yang berada di sepanjang aliran Sungai Ciberes, Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, kini berada dalam titik nadir kesabaran. Pasalnya, ancaman banjir musiman yang telah berulang kali melanda wilayah mereka dalam setahun terakhir—bahkan tercatat hingga puluhan kali—tak kunjung mendapatkan solusi konkret yang bersifat jangka panjang dari pemerintah daerah maupun instansi berwenang.
Kondisi darurat yang menahun ini memicu desakan kuat dari masyarakat setempat agar segera direalisasikannya penanganan secara permanen terhadap Sungai Ciberes. Genangan air yang kerap merendam permukiman warga bukan lagi sekadar bencana musiman biasa, melainkan persoalan krusial yang melumpuhkan aktivitas ekonomi serta mengancam keselamatan jiwa warga secara beruntun.
Ketua Forum Peduli Banjir (FPB) Kecamatan Waled, Nurwandi, mengungkapkan bahwa keresahan yang terakumulasi di tengah masyarakat mendasari pembentukan wadah aspirasi warga tersebut. Menurutnya, bencana luapan sungai yang terjadi berulang kali telah merusak tatanan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat secara masif.
Baca Juga:Mendagri Kaji Regulasi Khusus “Sound Horeg”, Tegaskan Siap Larang Jika Bahayakan Kesehatan MasyarakatKPK Bongkar Suap HGB Summarecon & Gratifikasi Pejabat ATR/BPN, Begini Konstruksinya
“Pembentukan forum ini dilatarbelakangi kondisi banjir yang terus berulang dan berdampak terhadap kehidupan,” ujar Nurwandi menegaskan urgensi situasi yang dihadapi warga Waled, Selasa (15/9/2026).
Ia menambahkan, masyarakat tidak bisa lagi terus-menerus hidup dalam bayang-bayang ketakutan setiap kali musim penghujan tiba tanpa adanya langkah mitigasi struktural yang nyata. Warga secara tegas menuntut agar pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) serta Pemerintah Kabupaten Cirebon segera memprioritaskan pembangunan infrastruktur pengendali banjir secara terintegrasi, seperti normalisasi menyeluruh dan perbaikan tanggul di titik-titik kritis.
“Bantuan ketika banjir memang dibutuhkan masyarakat. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana persoalan ini bisa ditangani dari hulunya, sehingga banjir dapat diminimalisir dan masyarakat tidak terus-menerus menjadi korban,” ungkapnya.
Melalui desakan ini, warga Waled berharap para pemangku kebijakan dan wakil rakyat tidak tinggal diam melihat penderitaan berulang yang dialami masyarakat. Penanganan yang bersifat tambal sulam dinilai sudah tidak relevan lagi, sehingga solusi permanen menjadi harga mati demi memutus mata rantai bencana tahunan di wilayah Cirebon timur tersebut. (red/dbs)
