CIREBON — Suasana duka dan kecemasan mendalam masih menyelimuti kediaman Yaya Carya, warga Dusun 02 RT 018/RW 005, Desa Sigong, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon. Pria yang merupakan tulang punggung keluarga tersebut diduga menjadi salah satu penumpang kapal roro KM Virgo Transport 8 yang mengalami musibah tenggelam di perairan saat melakukan pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin, Minggu (13/9/2026) dini hari.
Hingga Senin (14/9/2026), pihak keluarga praktis masih terus menanti kepastian informasi resmi terkait keberadaan dan kondisi Yaya. Sang istri, Ade Tursina, mengungkapkan bahwa dirinya pertama kali mengetahui kabar musibah tersebut setelah dihubungi oleh pengawas proyek tempat suaminya hendak bekerja.
“Kemarin saya mendapat kabar dari Mandor Rahmat sekitar pukul 12.30 WIB. Katanya suami saya menjadi salah satu korban kapal Virgo yang tenggelam,” ujar Ade saat ditemui di kediamannya, Senin (14/9/2016).
Baca Juga:Suahasil Nazara Resmi Dilantik Prabowo Jadi Menteri Keuangan Gantikan Purbaya Yudhi SadewaHari Ketujuh Pencarian Jurnalis Hilang, Tim SAR Gabungan Sisir 7 Sektor di Selat Sunda
Ade menceritakan, sebelum bertolak ke Kalimantan, suaminya sempat merantau sebagai buruh bangunan di Jakarta. Namun, setelah menerima tawaran pekerjaan baru dari rekannya untuk sebuah proyek pembangunan di Kalimantan, Yaya memutuskan untuk berangkat demi menafkahi keluarganya.
“Rencananya suami saya bekerja di Kalimantan. Karena ada ajakan dari teman, akhirnya beliau berangkat,” tutur Ade dengan nada berat.
Berdasarkan data sementara dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), KM Virgo Transport 8 merupakan kapal jenis RORO yang diberangkatkan dari Pelabuhan Surabaya menuju Banjarmasin pada Sabtu (12/9) sekitar pukul 10.13 WIB. Kapal nahas tersebut dilaporkan mengalami kondisi darurat akibat cuaca buruk, hingga mengalami kemiringan ekstrem sebelum akhirnya terbalik di perairan.
Kapal itu diketahui membawa sekitar 243 orang yang terdiri atas penumpang dan anak buah kapal (ABK). Hingga Minggu (13/9) siang, proses evakuasi yang melibatkan kapal-kapal sekitar—seperti TB TCP yang mengevakuasi 38 orang, TB Majuhan IX sebanyak 16 orang, dan MV Handa sebanyak 32 orang—berhasil menyelamatkan total 115 orang, satu orang ditemukan meninggal dunia, sementara sekitar 127 orang lainnya masih dalam proses pencarian dan verifikasi data oleh tim SAR gabungan.
Operasi SAR gabungan sendiri telah menerjunkan sejumlah armada andalan, di antaranya KN SAR Laksmana 241 dari Banjarmasin, KN SAR 249 Permadi dari Surabaya, serta satu unit helikopter Dauphin AS 365 N3+ dari Lanudal Juanda.
