Sinergi Pesantren dan Pemerintah: Ketua DPRD Cirebon Dorong Gerakan Bersama Atasi Sampah

DPRD Kab Cirebon sinergi RMI NU
Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Sophi Zulfia, saat menghadiri kegiatan RMI NU Bersinergi yang membagikan tempat sampah sekaligus menyosialisasikan pengendalian lingkungan bagi pesantren, takmir masjid, serta pengelola mushala, belum lama ini.
0 Komentar

KABUPATEN CIREBON — Persoalan sampah di Kabupaten Cirebon membutuhkan gerakan bersama yang melibatkan pemerintah daerah serta organisasi kemasyarakatan dan keagamaan untuk membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Sophi Zulfia, saat menghadiri kegiatan RMI Bersinergi yang membagikan tempat sampah sekaligus menyosialisasikan pengendalian lingkungan bagi pesantren, takmir masjid, serta pengelola mushala. Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi antara Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan DPRD Kabupaten Cirebon.

Sophi menegaskan bahwa penanganan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah daerah saja, melainkan memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar pengelolaan sampah dapat berjalan secara berkelanjutan.

Baca Juga:Menara 30 Meter Roboh Saat Dipotong di Cirebon, Seorang Pekerja TewasKesaksian Korban Selamat Virgo Transport 8: Tanpa Peringatan Dini, Kapal Tiba-Tiba Miring

“Penanganan sampah harus menjadi gerakan bersama. RMI NU mempunyai jaringan yang luas melalui pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan yang dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun kesadaran masyarakat,” ujar Sophi.

Menurutnya, pesantren, mushala, dan masjid tidak hanya berfungsi sebagai pusat keagamaan dan pendidikan, tetapi juga menjadi ruang sosial yang setiap hari bersentuhan langsung dengan masyarakat. Oleh karena itu, pengelolaan lingkungan di tempat-tempat tersebut memerlukan perhatian khusus, termasuk dalam hal penyediaan sarana kebersihan dan tata kelola sampah.

“Fasilitas umum, tempat sosial, dan tempat ibadah harus menjadi perhatian. Jangan sampai lokasi yang menjadi pusat aktivitas masyarakat justru menjadi titik penumpukan sampah,” tegasnya.

Sophi menilai, lingkungan pesantren dan tempat ibadah harus mampu menjadi teladan dalam penerapan budaya hidup bersih. Pengelolaan sampah, kata dia, perlu dilakukan secara komprehensif mulai dari pemilahan, pengurangan, hingga pengolahan lanjutan.

“Tempat ibadah dan pesantren harus menjadi contoh. Ketika lingkungannya bersih dan pengelolaan sampahnya baik, kebiasaan itu akan mudah ditiru oleh masyarakat,” ucapnya.

Selain penyediaan sarana fisik, Sophi turut menekankan pentingnya mengubah perilaku masyarakat agar terbiasa memilah sampah sejak dari sumbernya. Ia mengingatkan bahwa persoalan sampah bukan sekadar masalah kebersihan, melainkan juga menyangkut kesehatan, kelestarian lingkungan, dan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.

“Mulai dari rumah, pesantren, sekolah, pasar, fasilitas umum, hingga tempat ibadah, masyarakat harus dibiasakan memilah dan mengurangi sampah sejak awal,” jelasnya.

0 Komentar