BANJARMASIN — Perairan Laut Jawa mendadak mencekam pada Minggu (13/9/2026) dini hari. Kapal Virgo Transport 8 yang mengangkut 243 orang dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin dilaporkan terbalik secara tiba-tiba di tengah laut.
​Tragedi ini menyisakan trauma mendalam bagi para korban selamat yang tiba di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, pada Minggu petang. Sebagian besar penumpang yang tengah terlelap mendadak terbangun akibat badan kapal yang mulai miring tanpa adanya peringatan dini ataupun alarm bahaya dari pihak kru kapal.
​Agus, seorang sopir ekspedisi asal Palangkaraya yang menjadi salah satu penumpang, mengaku terbangun bukan karena sirene evakuasi, melainkan karena informasi dari sesama penumpang.
Baca Juga:Jokowi Datang ke Cirebon Penuhi Undangan Khitanan Anak Ustadz Ujang Busthomi, Disambut Ribuan WargaCakupan BPJS Baru 65 Persen, DPRD Cirebon Desak Subsidi Silang dan Evaluasi Layanan Kesehatan
​”Waktu saya bangun itu tidak ada. Cuman dengar dari teman-teman bahwa kapal miring,” ujar Agus kepada jurnalis Donny Muslim di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Minggu petang.
​Situasi di atas kapal seketika berubah menjadi lautan kepanikan. Di tengah situasi darurat tersebut, Agus bergegas keluar dari ruang tidur dan berhasil melompat ke sebuah sekoci penyelamat yang hanya berkapasitas tujuh orang. Sekoci itu sempat terombang-ambing akibat tali pengikatnya yang terlepas, menghanyutkannya jauh ke tengah laut selama berjam-jam sebelum akhirnya berhasil dievakuasi.
​Dari atas sekoci, Agus menyaksikan pemandangan yang menyayat hati. Banyak penumpang panik yang berteriak meminta pertolongan tanpa mengenakan atribut keselamatan seperti pelampung. “Banyak yang tidak pakai pelampung. Suara ‘minta tolong, minta tolong’ itu banyak,” tuturnya.
​Ketiadaan alarm darurat ini juga dikeluhkan oleh penumpang lainnya, Siprianus. Ia menilai jatuhnya korban jiwa dalam insiden ini turut dipicu oleh lambatnya respons sistem peringatan di atas kapal.
​”Kalau saja awak kapal tekan alarm bahaya, kami penumpang bisa tahu. Tapi tidak ada informasi sama sekali. Langsung tiba-tiba miring,” ucap Siprianus dengan nada geram. Setelah sempat terombang-ambing di laut selama sembilan jam, ia akhirnya berhasil diselamatkan dan tiba di Banjarmasin. Namun, rencana perjalanannya untuk menuntaskan pekerjaan ekspedisi seketika buyar, menyisakan duka atas nasib rekan-rekan sesama penumpang. “Banyak orang meninggal. Banyak orang masih tidur di dalam [kapal],” kenangnya.
