CIREBON – Suasana sakral menyelimuti kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon, Kamis (20/8/2026), saat prosesi ritual Siraman Panjang digelar. Tradisi tahunan yang menjadi bagian dari rangkaian upacara “Panjang Jimat” ini menarik perhatian masyarakat luas, terutama ketika air bekas cucian benda pusaka peninggalan era Sunan Gunung Jati menjadi rebutan warga.
Ritual yang dipimpin oleh Patih Sepuh PR Goemelar Soeryadiningrat dan Pangeran Patih Nusantara tersebut berlangsung khidmat di area Pungkuran, Keraton Kasepuhan. Dalam prosesinya, sejumlah benda pusaka berupa keramik, piring, tempat lilin, hingga guci kuno dibersihkan secara teliti sebagai simbol penyucian diri dan pelestarian warisan leluhur.
Keunikan tradisi ini tidak berhenti pada proses pencucian benda pusaka saja. Begitu ritual pembersihan selesai, warga yang telah memadati lokasi segera mendekat untuk mendapatkan sisa air cucian tersebut. Bagi masyarakat yang hadir, air bekas cucian pusaka ini diyakini memiliki nilai spiritual, berkah, serta khasiat kesehatan dan pengobatan.
Baca Juga:Menuju Kemandirian Pertahanan Nasional: Bandara Kertajati Disiapkan Jadi Pusat Perawatan Pesawat Tempur TNI AULangkah Strategis Konsolidasi Perbankan: Merger Dua BPR Milik Pemkab Cirebon Masuk Tahap Kajian OJK
Salah seorang warga asal Indramayu, Ratmi (45), mengaku rela datang sejak pagi buta demi mendapatkan air tersebut. Ia telah rutin mengikuti tradisi ini setiap tahun karena mempercayai kebaikan yang terkandung di dalamnya.
“Saya sudah di sini sejak pukul 08.00 WIB. Rencananya, air ini akan saya gunakan sebagai campuran untuk menyiram sawah agar hasil panen lebih melimpah, dan sisanya disimpan sebagai stok berkah selama satu tahun ke depan,” ungkap Ratmi kepada wartawan di lokasi kejadian.
Bagi pihak keraton, antusiasme masyarakat ini mencerminkan kuatnya keterikatan emosional dan spiritual warga terhadap warisan budaya Keraton Kasepuhan. Selain menjadi simbol kebersihan fisik, Siraman Panjang tetap menjadi magnet budaya yang mempererat hubungan antara pihak keraton dengan masyarakat luas, sekaligus menjaga eksistensi nilai-nilai luhur yang telah diwariskan turun-temurun di tanah Cirebon. (rif/dbs)
