BEKASI — Bagi sebagian orang, bonsai mungkin hanya dipandang sebagai tanaman hias berukuran mini. Namun bagi Aam Sumarja, seni membentuk bonsai merupakan perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, ketelitian, dan kecintaan terhadap alam. Konsistensinya selama lebih dari dua dekade akhirnya menghasilkan pengakuan dari salah satu maestro bonsai dunia asal Jepang, Kunio Kobayashi.
Pria yang akrab disapa Ketua itu berhasil membawa bonsai jenis Ficus microcarpa atau beringin meraih dua penghargaan terbaik dalam sebuah pameran bonsai nasional yang berlangsung di Bandung pada tahun 2023. Momen tersebut menjadi semakin berkesan karena medali yang diberikan langsung oleh Kunio Kobayashi, tokoh yang selama ini menjadi panutan para pegiat bonsai di berbagai negara.
“Yang memberikan langsung Pak Kobayashi dari Jepang. Beliau sendiri yang memasangkan medali di pohon bonsai saya,” kenang Ketua.
Baca Juga:Diduga Jadi Lokasi Open BO, Kontrakan di Babelan Digerebek Warga Komentar Pedas Soal Pasien BPJS di Kamar Mandi, Perawat RSUD Cicalengka Resmi Dinonaktifkan
Perjalanan Ketua di dunia bonsai dimulai sejak awal tahun 2000-an. Latar belakang sebagai anak petani membuat dirinya akrab dengan tanaman sejak kecil. Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi hobi yang terus diasah melalui proses belajar secara mandiri hingga berdiskusi dengan para senior di komunitas bonsai.
Menurutnya, kemampuan membentuk bonsai tidak cukup hanya mengandalkan bakat. Seorang pehobi juga harus memahami karakter setiap pohon agar mampu menghasilkan bentuk yang memiliki nilai seni.
Untuk mendapatkan bahan bonsai, Ketua tidak bersantai di satu daerah tertentu. Ia justru lebih sering memperoleh bahan dari para petani maupun rekan penghobi, kemudian mengolahnya sendiri hingga memiliki karakter yang diinginkan.
Baginya, proses pembentukan jauh lebih penting dibandingkan harga pohon itu sendiri. Setiap lekukan batang, susunan cabang, hingga arah pertumbuhan akar terbentuk secara bertahap melalui perawatan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun.
“Bonsai bukan semata-mata soal nilai jual. Yang saya cari adalah kepuasan ketika sebuah pohon berhasil menampilkan karakter dan keindahannya,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Salah satu bonsai hasil karyanya bahkan pernah ditawar kolektor dengan nilai mencapai Rp125 juta. Meski demikian, Ketua menilai nilai ekonomis hanyalah bonus dari sebuah karya yang lahir melalui kesabaran dan kegigihan.
