CIREBON — Gelombang serangan penyakit pernapasan kini tengah mengancam kesehatan masyarakat di Kabupaten Cirebon. Sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan dan pusat layanan medis primer melaporkan terjadinya lonjakan signifikan pada kunjungan pasien yang mengeluhkan gangguan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Yang mengkhawatirkan, kelompok usia anak-anak dan balita tercatat menjadi pihak yang paling mendominasi lonjakan kunjungan pasien dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan data resmi dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon, tren peningkatan kunjungan anak berobat ke puskesmas mengalami lonjakan tajam hingga mencapai kisaran 54 persen jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Jika pada bulan Juli rata-rata kunjungan pasien anak hanya mencatat angka sekitar 35 anak per hari per puskesmas, maka pada bulan September ini angka tersebut melonjak drastis hingga melayani rata-rata 54 anak setiap harinya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Hj. Eni Suhaeni, membenarkan adanya fenomena peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan tersebut. Ia menjelaskan bahwa mayoritas pasien anak yang datang berobat menunjukkan gejala klinis khas ISPA, mulai dari batuk, pilek, hingga demam tinggi akibat perubahan cuaca dan paparan virus di lingkungan sekitar.
Baca Juga:Tim Dokkes Polresta Cirebon Ambil Sampel DNA Keluarga Warga Sigong yang Hilang di Tragedi KM Virgo Transport 8Niat Bersihkan Lahan Berujung Maut, Lansia di Lemahabang Ditemukan Tewas Terbakar di Kebun Miliknya
“Memang terjadi peningkatan kunjungan pasien anak yang berobat ke puskesmas, terutama didominasi oleh keluhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA, dengan persentase kenaikan mencapai sekitar 54 persen dibandingkan periode sebelumnya,” ujar Eni Suhaeni saat memberikan keterangan resminya.
Lebih lanjut, Eni menjelaskan bahwa sebagian besar kasus ISPA yang menyerang anak-anak tersebut masih dalam kategori ringan hingga sedang, sehingga penanganannya dapat dilakukan secara optimal melalui jalur rawat jalan. Kendati demikian, pihak Dinas Kesehatan tetap mengimbau para tenaga medis di lapangan untuk siaga terhadap pasien dengan kondisi khusus atau komorbid yang memerlukan penanganan serta pemantauan lanjutan di rumah sakit rujukan.
“Sebagian besar kasus ISPA yang kami tangani masih dapat diatasi melalui pelayanan rawat jalan di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Namun, bagi pasien anak dengan kondisi klinis tertentu atau gejala berat, tentu membutuhkan penanganan dan pemantauan lebih lanjut di rumah sakit,” tambahnya.
