Solusi Jangka Panjang Atasi Kemacetan
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perhubungan RI Dudy Purwagandhi menjelaskan bahwa Kawasan Cekungan Bandung memiliki tingkat mobilitas dan aktivitas ekonomi yang sangat tinggi.Sayangnya, hal ini sering kali diiringi masalah kemacetan yang merugikan produktivitas, meningkatkan biaya logistik, dan menurunkan kualitas lingkungan.
Oleh karena itu, pemerintah menghadirkan Indonesia Mass Transit Project sebagai solusi jangka panjang untuk menata pergerakan masyarakat secara lebih efisien.
“Groundbreaking hari ini menjadi tonggak sejarah dalam mewujudkan transportasi publik modern. Kita ingin menghadirkan angkutan umum yang nyaman, aman, tepat waktu, terjangkau, dan terintegrasi sehingga menjadi opsi utama mobilitas masyarakat,” ujar Dudy.Ia memaparkan, BRT nantinya akan menjadi tulang punggung mobilitas yang terhubung langsung dengan kereta api dan angkutan pengumpan (feeder).Penandatanganan PSO juga dipastikan menjamin keberlangsungan operasional layanan dengan tarif yang terjangkau bagi semua kalangan.
Baca Juga:Cirebon Timur Darurat Keselamatan Jalan: 104 Orang Tewas Sepanjang 2025Â Piala Presiden 2026: Persib Raih Kemenangan Tipis atas Arema Tolic Fokus Siapkan Duel Kontra DPMM FC
Rincian Proyek BRT Cekungan Bandung
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Aan Suhanan mengatakan, program BRT Cekungan Bandung didukung pendanaan dari Pemerintah Indonesia, World Bank, dan AgenceFrançaise de Développement (AFD).Proyek Mastran secara nasional memiliki nilai pembiayaan mencapai USD264 juta (sekitar Rp3,8 triliun). Khusus untuk pembangunan infrastruktur BRT di Cekungan Bandung, total investasi dialokasikan sebesar Rp1,3 triliun yang mencakup:
– Pembangunan 21 kilometer jalur khusus BRT.- Pembangunan 6 depo utama BRT.- Pembangunan 719 halte _off-corridor_ dan 34 halte _on-corridor_.- Penerapan Intelligent Transportation System (ITS) untuk mendukung integrasi layanan.
Aan merinci, pembangunan tahap pertama difokuskan pada halte off-corridor, Depo Cicaheum, Depo Leuwipanjang, dan jalur utama BRT. Tahap berikutnya akan menyasar pembangunan halte ikonik di Tegalega, Alun-alun Bandung, Stasiun Hall, Kiara Artha Park, serta depo tambahan di Cimenyan, Padalarang, Soreang, danMajalaya.
Ke depannya, sistem BRT ini ditargetkan memiliki waktu tunggu (headway) maksimal 7 menit pada jam sibuk dan 15 menit di luar jam sibuk.
“Kami optimistis seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target, sehingga masyarakat Bandung Raya segera menikmati transportasi publik yang efisien, andal, dan berkelanjutan,”pungkas Aan. (adv)
