Mengurangi Waktu Belajar dan Sisa Makanan Melimpah, SD Muhammadiyah 1 Trenggalek Hentikan Keikutsertaan MBG

SD Muhammadiyah 1 Trenggalek.
SD Muhammadiyah 1 Trenggalek Hentikan Keikutsertaan MBG
0 Komentar

TRENGGALEK – Sebuah keputusan menarik datang dari SD Muhammadiyah 1 Trenggalek atau yang akrab dikenal sebagai SD Inovatif. Sekolah dasar swasta di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, itu resmi memilih mundur dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada tahun ajaran 2026/2027. Keputusan berani ini diambil setelah menjalani evaluasi selama hampir sepuluh bulan mengikuti program unggulan pemerintah tersebut sejak November 2025.

Kepala SD Inovatif Trenggalek, Ikhsan Nur Wahyudi, menegaskan bahwa langkah ini bukan bentuk penolakan terhadap program MBG, melainkan keputusan rasional berdasarkan hasil rapat kerja internal yang melibatkan guru, komite sekolah, dan yayasan. “Ini bukan menolak, tetapi tidak mengikuti Program MBG. Keputusan itu diambil setelah kami melakukan evaluasi dalam rapat kerja sekolah,” ujarnya di Trenggalek, Senin (13/7/2026).

Setidaknya ada tiga alasan utama yang melatarbelakangi pengunduran diri sekolah tersebut. Pertama, persoalan waktu. Proses distribusi makanan, mulai dari pembagian hingga kegiatan makan bersama, dinilai menyita waktu belajar efektif siswa. Menurut pihak sekolah, kegiatan tersebut rata-rata memakan waktu sekitar 30 menit setiap hari. “Waktu pagi merupakan waktu paling produktif bagi anak-anak untuk belajar dan berpikir. Paling tidak sekitar 30 menit waktu belajar tersita setiap harinya,” jelas Ikhsan.

Baca Juga:Diduga Rem Blong, Truk Air Mineral Hantam Warung dan Motor di Tanjakan Ciperna: Ibu dan Bayi TewasAkses Pertanian dan Industri Terbuka, Jalan Ruas Sumber Kidul–Sumber Lor Mulai Dibangun

Kedua, pemborosan makanan. Hasil evaluasi sekolah menemukan masih banyak makanan yang tidak habis dikonsumsi siswa dan berakhir menjadi limbah. Kondisi ini dinilai tidak sejalan dengan pendidikan karakter yang selama ini dibangun di lingkungan sekolah. “Sisa makanannya terlalu banyak yang terbuang. Sayang sekali, sangat mubazir. Padahal dalam ajaran Islam, kita tahu bersama bahwa perilaku mubazir itu tidak diperbolehkan dan harus kita hindari,” tegas Ikhsan.

Ketiga, ketepatan sasaran. Pihak sekolah menilai sebagian besar orang tua murid di SD Inovatif memiliki kondisi ekonomi yang cukup dan mampu memenuhi kebutuhan makan anaknya. Karena itu, sekolah berpendapat bahwa kuota MBG akan lebih bermanfaat jika dialihkan kepada sekolah lain yang siswanya lebih membutuhkan dukungan gizi secara mendesak . “Kami merasa anak-anak di tempat lain masih ada yang jauh lebih membutuhkan bantuan makanan bergizi ini daripada siswa-siswi di SD Muhammadiyah,” ujarnya.

0 Komentar