Misteri Dentuman Keras di Cirebon dan Kuningan Terjawab, BRIN Konfirmasi Lintasan Meteor di Langit Jawa

Misteri suara dentuman di langit Cirebon
Suara dentuman yang terdengar di wilayah Cirebon dan sekitarnya, Sabtu malam (11/7/2026) diduga berasal dari sebuah meteor besar yang melintas di atas atmosfer Pulau Jawa sebelum akhirnya terbakar dan melaju cepat menuju arah tenggara.
0 Komentar

CIREBON – Teka-teki mengenai suara dentuman misterius yang mengejutkan warga di wilayah Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, hingga Kabupaten Kuningan akhirnya menemui titik terang. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengonfirmasi bahwa fenomena tersebut bersumber dari sebuah meteor besar yang melintas di atas atmosfer Pulau Jawa sebelum akhirnya terbakar dan melaju cepat menuju arah tenggara.

Peristiwa langka yang terjadi pada akhir pekan tersebut sempat memicu kepanikan sekaligus rasa penasaran yang masif di jagat maya. Sejumlah laporan dari saksi mata yang melihat kilatan cahaya terang bermunculan secara berantai dari berbagai kota, mulai dari Bekasi, Bandung, Nagreg, Garut, Tasikmalaya, hingga wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Gema suara dentuman yang cukup solid dirasakan paling kuat oleh masyarakat di koridor Cirebon-Kuningan, memicu berbagai spekulasi lokal sebelum otoritas astronomi memberikan penjelasan resminya.

Peneliti Astronomi Senior dari BRIN, Profesor Thomas Djamaluddin, memaparkan secara rinci bahwa objek tersebut merupakan batuan antariksa yang memiliki jalur orbit tertentu dan kebetulan berada pada posisi berpapasan langsung dengan bumi. Karena terjebak oleh gaya gravitasi, batuan tersebut menembus lapisan pelindung bumi hingga akhirnya terbakar hebat akibat friksi udara.

Baca Juga:Buron Berbulan-bulan, Pelaku Curanmor yang Viral di Sukatani Diringkus Polisi di Muara GembongPolri Tetapkan Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Tersangka Korupsi dan TPPU

“Meteor ini berasal dari batuan antariksa yang memiliki orbit spesifik dan berpapasan dengan bumi. Ketika memasuki lapisan atmosfer bumi pada ketinggian sekitar 120 kilometer, batuan tersebut mulai bergesekan dengan udara dan terbakar hebat. Mengingat posisinya yang masih sangat tinggi pada fase awal, objek ini awalnya terlihat berwarna putih bersih dan berukuran relatif kecil dari permukaan tanah,” ungkap Prof. Thomas Djamaluddin saat dikonfirmasi pada Minggu (12/7/2026).

Berdasarkan hasil pemetaan visual dan data perlintasan, BRIN menyimpulkan bahwa arah pergerakan meteor tersebut melaju konstan menuju wilayah tenggara Pulau Jawa. Sepanjang jalur pelintasan tersebut, batuan antariksa mengalami kompresi udara ekstrem di lapisan bawah yang memicu dentuman keras yang terdengar masif di beberapa daerah.

“Suara dentuman keras yang didengar oleh masyarakat, khususnya di wilayah Cirebon dan Kuningan, terjadi karena adanya fenomena gelombang kejut atau shockwave. Gelombang kejut ini tercipta akibat meteor bergerak dengan kecepatan supersonik yang sangat ekstrem saat memasuki atmosfer bagian bawah,” tambah alumni SMPN 1 dan SMAN 2 Cirebon tersebut.

0 Komentar