CIREBON – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon resmi memulai langkah masif dalam merealisasikan program penguatan infrastruktur daerah. Sebanyak 91 paket pekerjaan peningkatan jalan yang tersebar di berbagai wilayah kini mulai memasuki tahap pelaksanaan fisik setelah seluruh proses lelang dinyatakan rampung. Tidak tanggung-tanggung, total anggaran yang digelontorkan untuk memuluskan konektivitas antarwilayah ini mencapai sekitar Rp80 miliar.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Cirebon, Rezza Fauzi, ST, mengonfirmasi bahwa seluruh paket proyek tersebut saat ini telah memiliki penyedia jasa resmi. Pengerjaan di lapangan pun mulai berjalan secara bertahap demi mengejar target batas waktu yang tertuang di dalam dokumen kontrak.
“Sebanyak 91 paket pekerjaan peningkatan jalan sudah selesai lelang dan saat ini sedang berjalan di berbagai wilayah Kabupaten Cirebon. Total nilai pekerjaannya secara keseluruhan berkisar di angka Rp80 miliar,” ungkap Rezza saat dikonfirmasi mengenai progres infrastruktur daerah, Senin (13/7/2026).
Baca Juga:NIlai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Terjun ke Rp 18.119Fraksi DPRD Kota Cirebon Soroti PAD Hingga Banjir dalam Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025
Rezza menjelaskan, dalam pelaksanaan proyek tahun ini, DPUTR Kabupaten Cirebon tidak hanya berfokus pada kecepatan waktu penyelesaian. Pihaknya meletakkan prioritas tertinggi pada kualitas dan daya tahan hasil pembangunan. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa jalan yang diperbaiki tidak mudah rusak dan memberikan manfaat jangka panjang bagi mobilitas masyarakat.
Untuk merealisasikan target kualitas tersebut, DPUTR menerapkan sistem pengawasan secara ketat dan berlapis sejak hari pertama pengerjaan dimulai hingga proyek dinyatakan selesai sepenuhnya. Setiap rekanan atau penyedia jasa diwajibkan mematuhi spesifikasi teknis yang telah disepakati bersama.
“Kami menargetkan seluruh pekerjaan perbaikan dan peningkatan jalan memiliki kualitas yang optimal. Jadi indikator keberhasilannya bukan hanya selesai tepat waktu, melainkan hasilnya juga harus kokoh, kuat, dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam jangka waktu yang panjang,” tegas Rezza.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa pemantauan ketat di lapangan mencakup pengecekan kualitas material yang digunakan, metode pelaksanaan konstruksi, hingga ketebalan lapisan jalan agar sepenuhnya presisi sesuai standar nasional. Peningkatan mutu ini dinilai krusial untuk memperpanjang umur layanan jalan (lifetime value), sehingga ke depan dapat menekan risiko kerusakan dini serta mengurangi pos anggaran untuk perbaikan yang bersifat berulang.
