“Rakyat awasi. Rakyat sekarang tidak bodoh. Rakyat punya gawai. Tapi memang ya, orang kalau mau nyolong, ada aja. Gue heran juga itu,” ujarnya.
Ia memberikan ilustrasi mengenai pentingnya standar porsi dalam menu MBG, terutama pada komponen protein. Ia mencontohkan, pemotongan ayam yang terlalu kecil dapat mengurangi manfaat gizi yang diterima anak-anak.
“Ayam biasanya dipotong 8. Kalau negara kaya seperti Amerika, 1 ayam dipotong 4. Kalau kita potong 8 atau 10 lah. Paling kecil 12 lah. Jangan pula dipotong 18 atau 22,” jelasnya.
Baca Juga:Menteri UMKM: Penurunan Pendapatan Ojol Bukan Dampak Skema Komisi 8 Persen, Tapi Karena IniTegaskan Sinergi Aparat, Jampidsus Febrie Adriansyah Hormati Langkah Hukum Polri
“Disangka kita nggak ngerti. Ayam dipotong 12 dan 20, kelihatan. Makanya kecil-kecil, sedikit. Habis itu, Ibu Nanik kalau dengar pidato ini, MBG jangan bikin telur dadar. Telur rebus atau ceplok. Kalau dadar biasanya itu dicampur macam-macam itu. Itu bisa empat orang makan 1 telur,” bebernya.
Presiden juga menambahkan bahwa MBG bukan sekadar program pemberian makan, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan generasi penerus bangsa sekaligus penggerak roda ekonomi nasional. Kehadiran negara melalui program ini diharapkan mampu menjamin tumbuh kembang anak secara optimal, baik dari sisi kecerdasan maupun fisik.
“Ini sangat strategis karena ini makan untuk anak-anak kita, generasi penerus. Sel otak harus berkembang baik, sel tulang harus baik, sel otot harus baik. Dia bisa jadi petani yang sehat, ilmuwan, dokter. Kalau dari kecil makan tidak bagus, nanti tidak maksimal,” katanya.
Tak hanya menyasar anak usia sekolah, Presiden menyebut bahwa Indonesia mungkin menjadi satu-satunya negara di dunia yang memberikan program serupa bagi ibu hamil. Menurutnya, langkah ini sangat krusial untuk memastikan kecukupan gizi janin sejak dini.
“Kita mungkin satu-satunya negara yang memberi makan ibu hamil. Negara kita besar sekali. Pasti ada desa yang belum terima MBG. Saya paham itu,” tutupnya. (red)
