CIREBON – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Cirebon bersama Pemerintah Kabupaten Cirebon resmi kembali menggulirkan program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) untuk tahun anggaran 2026. Inisiatif strategis ini bertujuan untuk memperkuat fondasi tata kelola data di tingkat pemerintahan terkecil, sekaligus memastikan arah pembangunan daerah berjalan tepat sasaran berbasis data yang akurat.
​Pada periode penilaian tahun ini, terpilih tiga desa yang akan menjadi garda terdepan mewakili Kabupaten Cirebon. Ketiga desa tersebut adalah Desa Babakan Gebang di Kecamatan Babakan, Desa Pamengkang di Kecamatan Mundu, serta Desa Kalikoa di Kecamatan Kedawung. Pemilihan ketiga desa ini didasarkan pada kesiapan infrastruktur dan komitmen aparat desa dalam mengelola data sektoral secara mandiri.
​Kepala BPS Kabupaten Cirebon, Januarto Wibowo, mengungkapkan bahwa program Desa Cantik merupakan inisiatif nasional yang dirancang untuk meningkatkan literasi dan kualitas pengelolaan statistik di tingkat desa. Ia berharap capaian gemilang tahun sebelumnya dapat terulang kembali.
Baca Juga:Waspada Hantavirus, Dinkes Kabupaten Cirebon Perketat Pengawasan di Puskesmas dan Rumah SakitPolda Jabar Bongkar Mafia BBM dan LPG Bersubsidi, Potensi Kerugian Negara Tembus Rp19,1 Miliar
​“Alhamdulillah, tahun lalu Desa Karangwangun berhasil mengukir prestasi dengan menjadi juara pertama di tingkat Provinsi Jawa Barat dalam ajang Desa Cantik. Tahun ini, fokus penilaian kami adalah sejauh mana kemampuan aparat desa dalam menyusun, mengelola, hingga memanfaatkan data statistik untuk kebutuhan pembangunan mereka sendiri,” jelas Januarto.
​Menurut Januarto, saat ini paradigma pembangunan telah bergeser secara signifikan. Desa kini diposisikan sebagai subjek utama atau aktor kunci dalam pembangunan, bukan lagi sekadar objek yang menerima bantuan. Oleh karena itu, kemandirian data di tingkat desa menjadi sangat krusial agar perencanaan program lebih efisien.
​“Jika data di desa sudah tersedia dan dikelola secara valid, efisiensi kerja nasional pun meningkat. Kedepannya, BPS tidak perlu lagi melakukan sensus secara menyeluruh ke bawah jika kompilasi data sektoral di tiap desa sudah berjalan dengan baik,” tambahnya.
​Lebih jauh, Januarto menekankan bahwa pemanfaatan data ini mencakup berbagai dimensi, mulai dari pemetaan sanitasi rumah tangga, pemantauan gizi masyarakat (stunting), hingga pemetaan potensi ekonomi lokal. Ia bahkan melontarkan gagasan inovatif berupa konsep “Dewi Cantik” atau Desa Wisata Cinta Statistik, sebuah penggabungan antara pengembangan pariwisata yang didukung oleh kekuatan data statistik yang solid untuk menggali potensi desa secara maksimal.
