Soal informasi kenapa sangat mudah pencairan pinjaman di koperasi ini, mereka pun menjawabnya cukup detail, antara lain karena tidak munculnya data “BI Checking” saat anggota yang secara finansial bermasalah, mengajukan pinjaman.
Terkait membengkaknya pinjaman hingga Rp 5,6 miliar, hal ini karena kekayaan koperasi tidak hanya berasal dari uang anggota yang besarnya Rp 2,2 miliar. Melainkan ada juga sumber dana lainnya yakni sekitar Rp 3 miliar dari bank (BKE) dan asset koperasi. Kata pengurus, inilah mengapa terjadi pembengkakan dan tentunya menjadi salah satu kerugian bagi koperasi yang para anggotanya malas bayar utang.
“Misal ada anggota pinjam Rp 30 juta, lalu dipertengahan jalan dia melunasi. Utang kami ke bank kan tidak lagi Rp 30 juta, tapi bisa sampai Rp 45 juta. Kalau yang melunasi saja kami rugi, apalagi anggota yang macet dan susah bayar,” sambung Yanto, mantan Bendahara Koperasi memberikan ilustrasi. Perbedaan sistem pembayaran, bunga, pola penagihan, antara bank dan koperasi juga menjadi kendala yang serius.
Baca Juga:Pelayanan Online Pencetakan e-KTP Sudah Berjalan EfektifJabat Kabid Humas Polda Jabar, AKBP Trunoyudo Wisnu Andika Siap Komunikasi dengan Media 24 Jam
Untuk itu, para pengurus berinisiatif menghadap Kadisdik Kab Cirebon sebelum dilakukan pemanggilan. “Kami akan datang kepada Kadisdik, kami akan berikan penjelasan dan minta dibantu dalam menyelesaikan polemik ini,” sambung H. Shopandi lagi.
Di akhir klarifikasi, para pengurus meminta semua anggota, khususnya para pemilik tabungan untuk tetap tenang, karena para pengurus juga tidak tinggal diam menyikapi masalah ini. “Prinsipnya, uang anggota semuanya ada, meski masih ditangan anggota juga. Saat ini sedang kami inventarisir dulu solusinya. Meski sudah pensiun, saya akan dampingi terus para pengurus koperasi ini,” pungkas H. Shopandi sambil menyebutkan antara jajaran pengurus lama dan baru tetap kompak hingga kini. (crd/red)
