CIREBON — Gelombang keprihatinan atas keselamatan pasien pelayanan kesehatan daerah kembali mencuat di Kota Cirebon. Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi) Cirebon Raya menggelar aksi unjuk rasa mendadak di depan Balai Kota Cirebon pada Rabu (4/11/2026), menuntut penanganan tuntas atas kasus dugaan kelalaian medis yang melibatkan Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati.
Aksi massa yang dikawal ketat oleh puluhan personel Polres Cirebon Kota tersebut dipicu oleh kabar mengenai delapan pasien mata yang disinyalir mengalami gangguan penglihatan serius hingga infeksi berat pasca-tindakan medis injeksi di RSD Gunung Jati. Mahasiswa menilai insiden tersebut merupakan preseden buruk bagi penjaminan keselamatan pasien di rumah sakit rujukan utama wilayah Cirebon.
Dalam tuntutan resminya, massa mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon untuk segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh dan audit klinis independen. Audit tersebut difokuskan pada Standar Operasional Prosedur (SOP) pelayanan medis, kelayakan dan sterilisasi instrumen kesehatan, hingga keandalan manajemen fasilitas di lingkungan RSD Gunung Jati.
Baca Juga:Perkuat Akses Kesehatan Cirebon Timur, RSUD Waled Dorong Optimalisasi Sistem RujukanKronologi Perampokan Berdarah di Krangkeng: Pelaku Habisi Nyawa Korban Lalu Bakar Mobil demi Hilangkan Jejak
“Keselamatan pasien adalah hukum tertinggi dalam pelayanan medis yang tidak boleh dikompromikan. Kami meminta Kemenkes dan Dinkes segera melakukan investigasi dan audit klinis secara menyeluruh terhadap standar sterilisasi serta manajemen fasilitas di RSD Gunung Jati demi kepastian hak hukum dan pemulihan para korban,” ujar Koordinator Lapangan Permahi Cirebon Raya, Abil Ramadhan, di sela-sela aksi.
Eskalasi aksi berlanjut ketika perwakilan massa diterima untuk berdialog langsung di Ruang Adipura Balai Kota Cirebon. Audiensi tersebut dipimpin oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Aspemkesra) Sekretariat Daerah Kota Cirebon, Sutikno, didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon dr. Siti Maria Listiyawati, perwakilan DPRD Kota Cirebon, serta jajaran direksi dan manajemen RSD Gunung Jati.
Namun, sesi jaring aspirasi tersebut diwarnai ketegangan. Diskusi berjalan alot dan tidak menemui kesepakatan utuh setelah massa aksi memilih walk out dari ruangan sebelum Direktur Utama RSD Gunung Jati menyampaikan klarifikasi serta jawaban teknis atas perincian SOP yang dipertanyakan mahasiswa. Sebelum membubarkan diri secara tertib, Permahi memberikan ultimatum 3×24 jam kepada Pemerintah Kota Cirebon dan pihak manajemen rumah sakit untuk menyampaikan transparansi penanganan kasus serta langkah taktis pemulihan korban ke publik.
