INDRAMAYU — Rasa aman seketika runtuh di balik dinding rumah mewah di Desa Kalianyar, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu. Kasus memaafkan disertai kekerasan maut yang merenggut nyawa Hj. Komariah (45) meninggalkan luka mendalam sekaligus kejutan psikologis bagi keluarga yang ditinggalkan. Betapa tidak, di balik musibah tragis tersebut, tabir kejahatan perlahan terbuka dan mengarah pada keterlibatan orang-orang terdekat yang tinggal tidak jauh dari lingkungan tempat tinggal korban.
Keluarga besar korban kini mendesak aparat penegak hukum dari Polres Indramayu untuk mengusut tuntas kasus ini hingga ke akar-akarnya. Berdasarkan fakta-fakta awal yang dihimpun, pihak keluarga menilai aksi kejahatan ini bukan sekadar pencurian biasa dengan kekerasan, melainkan mengarah kuat pada dugaan pembunuhan berencana yang telah dirancang secara matang oleh para pelaku.
Suami korban, H. Dudung, dengan suara terbata-bata menceritakan detik-detik terakhir sebelum musibah merenggut nyawa belahan jiwa pada Senin (2/11/2026). Rutinitas pagi hari itu berjalan normal tanpa ada buruknya sedikit pun. Dudung bersiap berangkat menjalankan tugas pekerjaannya menuju Kabupaten Majalengka, sementara sang istri, Hj. Komariah, berencana bepergian ke Cirebon untuk mengikuti agenda bersama rekan-rekan dari grup senamnya.
Baca Juga:Kasus Dugaan Malpraktik RSD Gunung Jati Cirebon Resmi Bergulir ke Ranah HukumMenjaga Standar Mutu dan Keselamatan Pasien, RSUD Waled Bidik Pertahankan Predikat Paripurna
“Pukul 05.30 WIB saya sudah bersiap untuk berangkat kerja. Istri saya sempat pamit dan menyampaikan rencana perginya ke Cirebon bersama teman-teman senam. Tidak berselang lama, sekitar pukul 06.00 WIB, anak kami berangkat ke sekolah. Baru pada pukul 08.00 WIB saya meninggalkan rumah menuju tempat kerja di Majalengka,” kenang Dudung dengan nada penuh kepedihan.
Namun, suasana damai tersebut seketika berubah menjadi mimpi buruk ketika kabar mengejutkan diterimanya di tengah kesibukan kerja. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi keluarga justru menjadi sasaran empuk kejahatan sadis.
Yang membuat pihak keluarga semakin terpukul dan geram adalah kenyataan bahwa para pelaku tak terduga yang kini telah diamankan pihak kepolisian ternyata merupakan tetangga dekat mereka sendiri. Wajah-wajah yang setiap hari lalu-lalang di sekitar lingkungan rumah korban justru menyaksikan kepercayaan bertetangga demi meraup keuntungan haram.
Menyanggapi perkembangan penanganan kasus ini, H. Dudung bersama keluarga besarnya berharap para penegak hukum dapat bekerja secara profesional, transparan, dan memberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatan yang dilakukan para pelaku. Keluarga menegaskan bahwa nyawa manusia tidak bisa ditukar dengan apapun, sehingga keadilan yang transparan menjadi satu-satunya harapan untuk mengobati luka keluarga yang ditinggalkan.
