KABUPATEN CIREBON — Komitmen dalam mendongkrak kualitas layanan kesehatan publik kembali dibuktikan oleh jajaran manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Waled, Kabupaten Cirebon. Di tengah dinamika pelayanan medis yang semakin kompetitif di kawasan Cirebon Timur, rumah sakit pelat merah ini menunjukkan keseriusannya dengan menjalani audit dan evaluasi mendalam melalui proses penilaian akreditasi nasional demi memastikan standar mutu dan keselamatan pasien tetap menjadi prioritas utama. Selasa (3/11/2026).
Direktur RSUD Waled, dr. Deni Wirhana Surjono, Sp.OG, Subsp.KFM, menegaskan bahwa tahapan akreditasi berkala ini bukan sekadar pemenuhan administratif rutin setiap empat tahun sekali. Lebih dari itu, proses evaluasi ini merupakan instrumen penting untuk memotret kedisiplinan rumah sakit dalam menerapkan prosedur klinis yang ketat serta menjamin perlindungan menyeluruh bagi setiap pasien yang berobat.
“Akreditasi ini merupakan standar baku mutu pelayanan. Jadi, pelayanan yang dilaksanakan rumah sakit harus benar-benar memenuhi standar mutu yang baik. Setiap empat tahun sekali kami dinilai berdasarkan standar yang ada, termasuk bagaimana keselamatan pasien dan apakah prosedur pelayanan sudah berjalan dengan benar,” ungkap dr. Deni saat memberikan keterangan kepada awak media.
Baca Juga:Isu Penangkapan Sejumlah Jenderal Polri Menghebohkan Publik, Mabes Polri Beri Penjelasan ResmiAncaman Bencana Hidrometeorologi Mengintai, BPBD Petakan Puluhan Desa Rawan Banjir di Kabupaten Cirebon
Ia menjelaskan, penilaian akreditasi tersebut dilakukan secara independen oleh tim dari Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) yang hasilnya kemudian dilaporkan kepada Kementerian Kesehatan guna menentukan klasifikasi mutu layanan. Menilik rekam jejaknya, RSUD Waled sebelumnya telah sukses menyabet predikat bintang lima atau paripurna.
Kendati telah mengantongi predikat tertinggi tersebut, dr. Deni menyatakan pihaknya tidak lantas berpuas diri. Seluruh catatan, masukan, maupun rekomendasi perbaikan dari tim penilai akan dijadikan momentum evaluasi internal guna menambal berbagai kekurangan yang ada.
“Kalau ditemukan kekurangan, tentu harus segera diperbaiki. Catatan dari tim penilai menjadi bahan evaluasi agar kualitas pelayanan terus meningkat. Kami optimistis bisa mempertahankan predikat paripurna,” tandasnya optimis.
Di sisi lain, menanggapi maraknya pertumbuhan fasilitas kesehatan baru di wilayah Cirebon Timur, dr. Deni memandang fenomena tersebut bukan sebagai ancaman bisnis, melainkan peluang strategis untuk membangun ekosistem kesehatan yang kolaboratif. Mengingat populasi penduduk di Cirebon Timur yang mendekati angka satu juta jiwa, kebutuhan akan akses kesehatan yang mumpuni tentu menuntut adanya sinergi antar-faskes.
