“Kami bukan minta gratis. Kami bayar deposit. Kalau memang mau distop, kembalikan uang kami. Jangan digantung seperti ini,” cetusnya dengan nada kecewa.
Dugaan diskriminasi distribusi limbah semakin menguat ketika kendaraan operasional dari luar kota justru secara leluasa diperbolehkan menyerap limbah pabrik. Hal inilah yang memicu dugaan adanya praktik korporasi yang mengabaikan hak-hak masyarakat di area sekitar tempatnya beroperasi.
“Kami tidak terima. Katanya limbah disetop, tapi kenapa truk dari luar kota bisa masuk dan angkut limbah? Ini namanya kami dibohongi,” lanjut Beni menegaskan sikap penolakan warga.
Baca Juga:Aroma Menyengat Gemparkan Kerrtawinangun: Penghuni Kontrakan di Kedawung Ditemukan Tewas MembusukWarga Berebut Gunungan Hasil Bumi, Puncak Sedekah Bumi Karangwangun Berlangsung Meriah
Melalui aksi penghadangan ini, warga mendesak PT Indowooyang untuk segera membuka ruang dialog terbuka, mengembalikan jatah distribusi limbah kepada masyarakat lokal Cirebon sesuai kesepakatan awal, atau opsi terakhir mengembalikan seluruh deposit uang warga secara penuh tanpa potongan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PT Indowooyang belum memberikan klarifikasi atau penjelasan resmi terkait insiden tersebut. Saat dikonfirmasi mengenai aksi protes warga dan status uang deposit tersebut, General Affair PT Indowooyang, Danu, belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut. (dbs/red)
