JAKARTA – Langit malam belum turun, tapi aroma ketegangan sudah menyelimuti Stadion Utama Gelora Bung Karno. Kamis, 1 Oktober 2026, pukul 19.30 WIB, bukan sekadar kick-off biasa. Ini adalah momen di mana Timnas Indonesia tidak punya pilihan lain selain menang besar — atau menyerahkan nasib ke tangan orang lain.
Dua laga sudah dijalani di Grup A FIFA ASEAN Cup 2026. Indonesia mengoleksi empat poin, sama dengan Malaysia. Tapi ada satu angka yang membuat jantung para pendukung berdebar: selisih gol. Malaysia unggul +3, sementara Indonesia hanya +2. Artinya, jika Malaysia mengalahkan Singapura di laga paralel, Indonesia wajib membantai Bangladesh dengan selisih minimal satu gol lebih banyak dari kemenangan Malaysia.
John Herdman, arsitek di balik skuad Garuda, jelas memahami tekanan ini. Pada laga sebelumnya melawan Malaysia, ia harus menyaksikan Thom Haye diusir wasit pada menit ke-38 setelah VAR mengintervensi. Bermain dengan sepuluh orang selama lebih dari 50 menit, Indonesia bertahan mati-matian dan pulang dengan satu poin. Malam itu, pendukung melihat kegigihan luar biasa — tapi juga melihat kebuntuan di lini serang. Bahkan saat masih sebelas lawan sebelas, tidak ada satu pun tembakan tepat sasaran yang benar-benar mengancam gawang Malaysia.
Baca Juga:Honda Scoopy dan Vario Tertabrak Kereta di Perlintasan Alun-Alun Brebes, Pengendara SelamatViral Aksi Konvoi Bawa Senjata Tajam di Losari Brebes, Polisi Selidiki Gerombolan Remaja
Bangladesh bukan lawan yang bisa diremehkan sepenuhnya. Dua kekalahan sudah mereka alami — 0-3 dari Malaysia dan 0-1 dari Singapura — tapi ada tren yang perlu dicermati. Di laga kedua, pertahanan mereka jauh lebih rapat. Thomas Dooley, pelatih asal Amerika Serikat itu, berhasil menutup celah-celah yang sebelumnya terbuka lebar. Bangladesh sudah dipastikan tersingkir, dan justru dalam kondisi seperti itu, tim sering bermain lebih lepas, tanpa beban.
Tapi Indonesia punya satu keunggulan yang tidak dimiliki Bangladesh: kualitas individu di setiap lini. Di bawah mistar, nama Maarten Paes masih menjadi jaminan. Kiper yang baru saja resmi berseragam Ajax Amsterdam itu belum sekalipun memungut bola dari gawangnya di turnamen ini. Clean sheet melawan Singapura dan Malaysia adalah buktinya.
Tapi menghadapi Bangladesh, peran Paes mungkin akan bergeser — ia tidak hanya dituntut menjaga gawang, tetapi juga menjadi titik awal serangan. Dalam skema menyerang total, kiper modern harus berani keluar dari sarangnya, menjadi opsi umpan pendek, dan memulai build-up dari belakang.
