KOTA CIREBON – Suasana siaga tampak menyelimuti Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSD Gunung Jati, Kota Cirebon, dalam satu hingga dua pekan terakhir. Gelombang kedatangan pasien yang terus mengalir deras membuat fasilitas darurat di rumah sakit pelat merah ini bekerja di ambang batas kewajaran. Pemandangan kontras terlihat di area lobi, di mana puluhan tempat tidur dorong atau blangkar yang biasanya berjajar rapi kini nyaris tak tersisa akibat sibuk melayani pasien darurat.
Berdasarkan pemantauan di lapangan, dari total sekitar 15 unit blangkar yang lazimnya disiagakan di depan lobi IGD untuk menyambut pasien gawat darurat dari ambulans, kini hanya menyisakan dua hingga tiga unit saja yang standby. Selebihnya, unit-unit blangkar tersebut terpaksa harus disebar ke berbagai sudut ruangan guna menangani lonjakan pasien yang datang secara maraton.
Kepala Bidang (Kabid) Keperawatan RSD Gunung Jati Cirebon, Yogi Yana, saat dikonfirmasi pada Senin (28/9/2026), tidak menampik adanya eskalasi kunjungan yang signifikan di fasilitas kesehatan rujukan regional tersebut. Pihaknya mencatat bahwa lonjakan kunjungan ini didominasi oleh pasien kelompok usia anak, yang kemudian disusul oleh pasien dewasa dengan hipertensi, demam, dan keluhan utama penyakit dalam.
Baca Juga:Asap Pekat Selimuti Ruang ICU RSUD Bekasi, Puluhan Pasien Kritis Dievakuasi ke Halaman TerbukaAtasi Kerusakan Berat, 82 Sekolah Dasar di Cirebon Dapat Intervensi Khusus dari Pemerintah
“Untuk akhir-akhir ini, interval satu sampai dua minggu ke belakang, memang jumlah kunjungan pasien di IGD mengalami peningkatan. Khususnya peningkatan pasien anak, ditambah pasien dewasa, khususnya dengan penyakit dalam,” ujar Yogi Yana, Senin (28/9/2026).
Dari analisa klinis sementara, mayoritas pasien anak yang datang ke IGD mengeluhkan gejala infeksi saluran pernapasan dan kenaikan suhu tubuh yang ekstrem. Keluhan klasik seperti batuk, pilek, serta demam tinggi (hipertermi) mendominasi rekam medis harian pasien cilik yang masuk.
Setiap pasien IGD terlebih dahulu menjalani observasi selama dua hingga empat jam guna menentukan langkah medis selanjutnya, apakah dipulangkan atau dirawat inap. Khusus pasien rujukan, sebagian besar memang telah diindikasikan untuk langsung menjalani perawatan lanjutan.
Lonjakan pasien turut mendongkrak Bed Occupancy Rate (BOR) ruang anak dari 60–65 persen menjadi 70–80 persen, bahkan Ruang Kemuning khusus bayi telah terisi sekitar 91 persen. Kendati demikian, pihak rumah sakit memastikan kapasitas tempat tidur secara keseluruhan masih mencukupi.
