Faktor ketiga yang tidak kalah penting adalah masih minimnya tingkat literasi keuangan di tengah masyarakat. Kondisi ini kerap dimanfaatkan oleh platform pinjaman ilegal maupun tingginya kemudahan akses pinjaman tanpa edukasi risiko yang memadai.
Kondisi ini mendapat sorotan tajam dari berbagai pihak. Berdasarkan analisis pengamat ekonomi dan otoritas keuangan, fenomena ini memberikan sinyal darurat bagi sektor sosial-ekonomi masyarakat.
Hal tersebut disorot oleh, Monika, pegiat media sosial yang konsen mengamati serta menganalisa ekonomi dan otoritas keuangan.
Baca Juga:Kasus ISPA Menggila di Cirebon, Pasien Anak-Anak Dominasi Fasilitas KesehatanTim Dokkes Polresta Cirebon Ambil Sampel DNA Keluarga Warga Sigong yang Hilang di Tragedi KM Virgo Transport 8
“Ini sinyal bahwa banyak warga masih harus berutang untuk kebutuhan dasar,” demikian tandas pengamat menyoroti realitas tingginya angka utang konsumtif tersebut.
Melalui data ini, OJK bersama pemangku kepentingan terkait terus mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap jeratan pinjaman online, serta memasifkan program edukasi literasi keuangan agar masyarakat, khususnya di Jawa Barat, lebih bijak dalam mengelola keuangan dan terhindar dari risiko kredit macet di masa mendatang. (red/dbs)
