Pererat Silaturahmi Lintas Daerah, Cirebon Matangkan Konsep Haul Akbar Sunan Gunung Jati

Rumusan Haul Akbar Sunan Gunung Jati
Haul Akbar Sunan Gunung Jati mulai dirumuskan melalui pertemuan berbagai elemen masyarakat di Aula Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon, Kamis (20/8/2026).
0 Komentar

CIREBON – Pemerintah Kabupaten Cirebon tengah mematangkan rencana besar untuk menyelenggarakan Haul Akbar Kanjeng Sunan Gunung Jati. Tidak sekadar agenda rutin, perhelatan ini digagas agar menjadi momentum kolaborasi skala luas yang melibatkan berbagai wilayah yang memiliki keterkaitan sejarah mendalam dengan Cirebon, mulai dari Banten, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah.

Langkah awal menuju perhelatan akbar tersebut telah mulai dirumuskan melalui pertemuan berbagai elemen masyarakat di Aula Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon, Kamis (20/8/2026).

Gagasan ini lahir dari semangat untuk menyatukan berbagai pihak, mulai dari unsur pesantren, pihak keraton, budayawan, sejarawan, akademisi, hingga lapisan masyarakat umum. Penyatuan konsep haul ini diharapkan mampu memperkuat nilai sejarah serta mempererat silaturahmi antardaerah yang selama ini memiliki ikatan emosional dan historis dengan Cirebon.

Baca Juga:Pohon Tumbang Tewaskan Faris di Cirebon, BBWS Siap Bantu Keluarga KorbanKabar Baik, PPPK Paruh Waktu Diangkat Jadi Penuh Waktu 2027, Purbaya Siapkan Rp31 Triliun 

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cirebon, KH Zamzami Amin, menyambut positif rencana tersebut. Menurutnya, pengaruh sejarah Cirebon tidak terbatas pada wilayah administratif Kabupaten maupun Kota Cirebon, melainkan telah meluas hingga ke Banten, Jakarta, dan sebagian wilayah di Jawa Tengah.

“Melalui haul ini, kita ingin mengumpulkan semangat kekeluargaan, mempererat silaturahmi, sekaligus melakukan penguatan ekonomi yang mencakup aspek ketahanan pangan, sandang, hingga papan,” ujar KH Zamzami Amin saat dikonfirmasi.

Lebih lanjut, KH Zamzami menekankan bahwa Cirebon memiliki posisi strategis sebagai titik temu berbagai latar belakang budaya. Ia menegaskan, identitas Cirebon sangat majemuk dan tidak bisa direduksi hanya pada satu budaya tertentu saja.

“Cirebon bukan sekadar wilayah yang identik dengan budaya Sunda atau Jawa saja. Di sini terdapat beragam komunitas dengan latar belakang budaya yang berbeda, dan haul ini nantinya diharapkan menjadi ruang bagi keragaman tersebut,” tambahnya.

Meski rencana pelaksanaan telah diwacanakan untuk digelar pada September 2026 mendatang, pihak penyelenggara hingga saat ini belum menetapkan tanggal pasti. Jadwal tersebut masih memerlukan pembahasan lanjutan dan kesepakatan matang dari seluruh elemen yang terlibat untuk memastikan perhelatan berjalan khidmat dan mampu menjangkau sasaran yang lebih luas. (rif/dbs)

0 Komentar