Pihak manajemen juga menegaskan komitmennya untuk bersikap akomodatif terhadap dinamika sosial. “Kami sangat terbuka terhadap segala bentuk keluhan, kritik konstruktif, maupun masukan dari publik. Kami memandang setiap umpan balik sebagai instrumen evaluasi yang fundamental untuk mematangkan mutu pelayanan kami ke depan,” tambah dr. Deni.
Sejalan dengan restrukturisasi layanan operasional, RSUD Waled kini tengah memperkuat infrastruktur medisnya melalui dukungan penuh dari jajaran pusat. Manajemen mengumumkan bahwa rumah sakit baru saja menerima alokasi bantuan alat kesehatan mutakhir dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, salah satunya adalah fasilitas Cath Lab (laboratorium kateterisasi) untuk penanganan penyakit jantung dan pembuluh darah.
“Dukungan dari Kementerian Kesehatan berupa penyediaan peralatan medis modern seperti Cath Lab ini sudah berada di RSUD Waled. Kehadiran teknologi mutakhir ini diproyeksikan mampu mendongkrak secara signifikan kualitas penanganan medis bagi masyarakat di Kabupaten Cirebon dan wilayah sekitarnya,” urai dr. Deni secara optimistis.
Baca Juga:Gubernur Jabar Hadiri Waisak di Candi Jiwa, Ajak Warga Bijak Manfaatkan Hasil BumiPerdamaian AS-Iran Mengguncang Pasar: Emas Global Meroket, tapi Bagaimana dengan Harga di Dalam Negeri?
Di sisi lain, Kepala Bagian Umum RSUD Waled, dr. Iskandar, mengonfirmasi bahwa ketegangan yang sempat terjadi di ruang publik kini telah diselesaikan secara kekeluargaan. Manajemen telah memediasi persoalan tersebut melalui forum audiensi tatap muka langsung yang menghadirkan perwakilan keluarga pasien, jajaran direksi, serta tokoh warga setempat.
Berdasarkan hasil musyawarah tersebut, seluruh pihak sepakat bahwa pangkal permasalahan murni dipicu oleh kurangnya penetrasi informasi terkait jadwal dokter yang sedang mengajukan cuti operasional. Dr. Iskandar memaparkan bahwa data jadwal dokter sebenarnya selalu diperbarui secara berkala pada platform media sosial resmi institusi, namun ada kesenjangan literasi digital di mana tidak semua segmen masyarakat memantau akun tersebut secara rutin.
“Seluruh jadwal praktik telah dipublikasikan secara terbuka melalui media sosial resmi rumah sakit. Sayangnya, belum semua warga terbiasa memantau pembaruan digital tersebut secara berkala. Dampaknya, terjadi situasi di mana pasien sudah terlanjur tiba di rumah sakit tanpa mengetahui bahwa dokter yang dituju sedang tidak berada di tempat,” kata dr. Iskandar menceritakan kronologi kejadian.
Insiden keluhan ini dinilai menjadi momentum berharga bagi manajemen untuk menata ulang tata kelola komunikasi publik. Manajemen RSUD Waled menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan sebuah pelayanan kesehatan tidak semata-mata diukur dari kemahiran tenaga medis atau kemegahan fasilitas gedung, melainkan dari efektivitas komunikasi dua arah yang terjalin antara pihak rumah sakit dengan pasien.
