JAKARTA — Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mendeteksi adanya pergeseran signifikan dalam pola rekrutmen dan penyebaran paham radikalisme di Indonesia. Kelompok radikal kini secara masif menyasar generasi muda atau digital native—termasuk anak-anak dan pelajar—dengan memanfaatkan mekanisme algoritma media sosial serta gim daring (game online).
​Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana, menjelaskan bahwa sistem algoritma pada berbagai platform digital modern memiliki peran besar dalam mempercepat sekaligus memperluas (amplify) paparan paham ekstremisme kepada kelompok remaja.
​”Kami mendeteksi memang betul ada pergeseran pola rekrutmen. Multi-platform digital saat ini banyak digunakan oleh anak-anak dan remaja yang merupakan digital native. Mereka umumnya jauh lebih mahir mengoperasikan teknologi digital dibandingkan orang tuanya, dan ketergantungan inilah yang dimanfaatkan oleh kelompok teror,” ujar Mayndra dalam acara peluncuran buku ‘Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran’ di Menara Kompas, Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Baca Juga:Dongkrak PAD dan Kunjungan Wisatawan, Kabupaten Cirebon Bersiap Gelar Dua Event Budaya Berskala NasionalRSUD Waled Hadirkan Layanan PIPP dan BPJS SATU untuk Tingkatkan Kualitas Pelayanan Pasien JKN
​Mayndra memaparkan, algoritma platform digital pada dasarnya dirancang untuk mempertahankan durasi pengguna agar berlama-lama berselancar di media sosial. Ketika seorang remaja tak sengaja atau penasaran mengakses konten bermuatan ekstrem, sistem algoritma secara otomatis akan terus menyodorkan konten serupa secara berulang.
​Kondisi tersebut pada akhirnya menciptakan fenomena echo chamber atau ruang gema, di mana anak-anak terisolasi dalam satu sudut pandang radikal tanpa memperoleh pembanding (second opinion) atau informasi penyeimbang.
​”Anak-anak ini membukanya berulang kali, sebelum tidur pun yang dilihat konten itu. Akibatnya, terbentuk persepsi seolah-olah informasi radikal tersebut adalah satu-satunya kebenaran. Karena itu, melindungi generasi muda dari manipulasi algoritma dan propaganda ekstremisme merupakan langkah strategis demi menjaga keamanan nasional,” tegas Mayndra. (red/dbs)
