BANDUNG — Sebanyak 150 siswa sekolah menengah dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Barat resmi dilepas untuk mengikuti Program Pendidikan Karakter Pancawaluya. Selama 14 hari ke depan, para peserta akan digembleng langsung oleh instruktur militer di Markas Komando (Mako) TNI Cilandak, Jakarta Selatan. Program intensif ini dirancang khusus sebagai kawah candradimuka untuk mentransformasi mentalitas generasi muda menjadi pribadi yang tangguh, disiplin, dan bertanggung jawab.
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Provinsi Jawa Barat, Purwanto, menyampaikan pesan mendalam saat memimpin persiapan pelepasan para siswa di Kantor Disdik Jabar, Kota Bandung, pada Selasa (19/5/2026). Ia menegaskan bahwa momentum ini harus dimanfaatkan secara maksimal oleh seluruh peserta sebagai ruang adaptasi terhadap pola hidup baru yang berbasis pada kedisiplinan tinggi.
“Selama dua pekan berada di Mako TNI Cilandak, kalian akan mendapatkan pengalaman, sistem pendidikan, dan cara hidup yang sama sekali baru. Mulai dari membuka mata saat bangun tidur di pagi hari hingga kembali beristirahat di malam hari, seluruh ritme aktivitas kalian akan diatur dan diawasi ketat oleh para tentara,” ujar Purwanto di hadapan ratusan siswa yang tampak antusias.
Baca Juga:Manfaatkan Program Makan Bergizi Gratis, Sindikat Penipuan SPPG Fiktif Rp1,9 Miliar Digulung Polda JabarPerkuat Ketahanan Pangan: Pemprov Jabar Targetkan 3.600 Koperasi Merah Putih Rampung Akhir Juli 2026
Berdasarkan data resmi Dinas Pendidikan Jawa Barat, komposisi peserta sebanyak 150 siswa tersebut tersebar dari tujuh wilayah strategis. Dominasi peserta berasal dari Kota Bandung dengan 104 siswa, disusul oleh Kabupaten Purwakarta sebanyak 17 siswa, Kota Cimahi 12 siswa, dan Kabupaten Bandung 11 siswa. Sementara itu, Kabupaten Karawang mengirimkan 4 siswa, sedangkan Kabupaten Bandung Barat dan Kota Bekasi masing-masing mengirimkan 1 perwakilan terbaiknya.
Lebih lanjut, Kadisdik memaparkan bahwa program ini bukan sekadar pelatihan fisik, melainkan media bagi para siswa untuk keluar dari zona nyaman dan melatih kemampuan beradaptasi di lingkungan yang heterogen. Bertemu dengan rekan sejawat dari latar belakang daerah yang berbeda dinilai menjadi modal sosial yang kuat bagi masa depan mereka.
“Kalian berada di sana untuk menyerap pengalaman baru dan memperluas wawasan. Di tempat itu, kalian akan bertemu, berinteraksi, dan berbaur dengan teman-teman dari berbagai daerah seperti Karawang, Purwakarta, Cimahi, dan Bandung. Di sana tidak ada lagi sekat asal-usul; kalian akan dilebur menjadi saudara, senasib sepenanggungan, dan dididik bersama-sama,” tuturnya.
