Jabar Segera Resmikan Sekolah 'Maung' di 41 Satuan Pendidikan, Dedi Mulyadi: Ini Bukan Sekolah Biasa

Sekolah Maung di Jabar
​Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memastikan bahwa Sekolah Maung akan memiliki atmosfer yang jauh berbeda dibandingkan sekolah reguler.
0 Komentar

BANDUNG – Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersiap melakukan terobosan besar dalam dunia pendidikan dengan meluncurkan program Sekolah Manusia Unggul (Maung) pada tahun ajaran 2026/2027. Program ini akan diimplementasikan di 41 satuan pendidikan, yang terdiri dari 28 SMA Negeri dan 13 SMK Negeri yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat.

​Program ini dirancang untuk menciptakan standar baru pendidikan yang tidak hanya berfokus pada kecerdasan kognitif, tetapi juga memfasilitasi bakat-bakat spesifik siswa di bidang non-akademik.

​Mekanisme Seleksi dan Penunjukan Sekolah

​Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat, Purwanto, menjelaskan bahwa pemilihan sekolah yang bertransformasi menjadi Sekolah Maung tidak dilakukan secara sembarangan. Prosesnya melibatkan usulan dari bawah melalui Kantor Cabang Dinas (KCD) yang dianggap paling memahami peta potensi di wilayah masing-masing.

Baca Juga:Gubernur Dedi Mulyadi: Menanam Pohon Jauh Lebih Sulit daripada Membangun Jalan TolWaspada! Basis Judi Online Internasional Mulai Bergeser dari Indo-China ke Indonesia

​”Penunjukan ini didasarkan pada usulan cabang dinas, karena mereka yang lebih mengetahui kondisi riil di lingkungannya. Data tersebut kemudian ditampung dan diverifikasi secara ketat oleh tim ahli yang telah kami bentuk,” ujar Purwanto, Sabtu (9/5/2026).

​Setelah melalui proses verifikasi teknis, daftar sekolah tersebut kemudian disahkan melalui Keputusan Gubernur (SK Gubernur) sebagai landasan hukum pelaksanaan program. Purwanto menambahkan, secara umum setiap kabupaten/kota memiliki satu SMA Maung, namun terdapat pengecualian untuk Kota Bandung yang memiliki dua unit, yakni SMAN 3 dan SMAN 5 Bandung.

​Transformasi Nama dan Kelas Spesialisasi

Terkait identitas sekolah, Disdik Jabar berencana mengubah nomenklatur sekolah terpilih menjadi “Sekolah Maung”. Meski demikian, Purwanto menegaskan bahwa perubahan nama tersebut masih harus menunggu persetujuan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

​”Rencana perubahan nama menjadi Sekolah Maung akan kami usulkan secara resmi ke kementerian. Jika mendapatkan lampu hijau, barulah proses rebranding tersebut dilakukan,” jelasnya.

​Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memastikan bahwa Sekolah Maung akan memiliki atmosfer yang jauh berbeda dibandingkan sekolah reguler. Meskipun proses seleksi masuk tetap menggunakan sistem SPMB, namun bobot penilaian akan sangat memperhatikan prestasi non-akademik.

​”Sekolah Maung bukan hanya tempat bagi mereka yang unggul secara akademik. Anak-anak yang memiliki prestasi di bidang olahraga, seni, hingga industri kreatif akan mendapatkan tempat dan fasilitas yang sama di sini. Kelas-kelasnya pun akan didesain secara spesifik, ada kelas fokus olahraga, kelas seni, hingga kelas industri kreatif,” tegas Dedi Mulyadi.

0 Komentar