CIANJUR – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa kemewahan sejati sebuah daerah tidak terletak pada megahnya infrastruktur beton, melainkan pada lestarinya ekosistem alam. Hal tersebut disampaikannya saat melakukan kunjungan kerja dan menyusuri hutan lindung seluas 2,5 hektare di kawasan Istana Kepresidenan Cipanas, Kabupaten Cianjur.
​Di sela-sela aktivitasnya menembus rimbunnya hutan, pria yang akrab disapa KDM ini tampak terpukau oleh deretan pohon raksasa yang masih berdiri kokoh. Menurutnya, pohon-pohon yang diperkirakan berusia ratusan tahun tersebut merupakan warisan ekologi Padjadjaran yang tak ternilai harganya oleh materi apa pun.
​Filosofi Ekologi dan Kritik Pembangunan
Dalam narasinya, Dedi memberikan perbandingan tajam antara pembangunan fisik dan konservasi alam. Ia menyebutkan bahwa otoritas politik dan anggaran besar bisa dengan mudah mewujudkan infrastruktur jalan, namun tidak bisa membeli waktu untuk menumbuhkan sebuah pohon hingga menjadi rimbun.
Baca Juga:Waspada! Basis Judi Online Internasional Mulai Bergeser dari Indo-China ke IndonesiaWarga Ciawigebang Kompak Tolak Investasi Panji Gumilang, Khawatirkan Penyebaran Ajaran Al Zaytun
​”Membangun jalan tol sepanjang ribuan kilometer saya sanggup, anggarannya tersedia. Tapi menanam pohon sampai besar dan rimbun seperti ini, uang tidak bisa membelinya. Inilah kemewahan yang sebenarnya,” ujar Dedi Mulyadi, Minggu (10/5/2026).
​Ia menambahkan bahwa perlindungan terhadap hutan bukan sekadar menjaga tanaman, melainkan menjaga martabat alam yang memberikan kehidupan bagi manusia di masa depan.
​Dukungan Hukum untuk Istana Cipanas​Selain aspek lingkungan, KDM turut menyoroti nilai historis Istana Cipanas yang telah berdiri sejak tahun 1742. Ia memandang perlu adanya payung hukum khusus yang lebih kuat untuk melindungi bangunan bersejarah tersebut. Perlindungan ini bertujuan agar kewibawaan dan kelestarian lingkungan di sekitar istana tetap terjaga dari desakan modernisasi yang serampangan.
​Langkah ini diambil setelah ia menerima laporan dari pengelola istana terkait persoalan limbah domestik. Aliran Sungai Cisabuk dan Sungai Jalimun yang melintasi area istana kerap membawa sampah rumah tangga dari pemukiman warga. Kondisi ini diperparah saat hujan deras melanda kawasan Puncak, yang seringkali menyebabkan pintu air atau grill penahan sampah jebol akibat beban volume sampah yang tinggi.
​Solusi Strategis dan Tata Ruang Puncak
Merespons persoalan tersebut, Gubernur Dedi Mulyadi langsung menawarkan solusi taktis. Ia berkomitmen untuk segera menerjunkan tim khusus guna memastikan kebersihan aliran sungai yang masuk ke area cagar budaya tersebut.
