Krisis Solar Lumpuhkan Pelabuhan Kejawanan: 100 Kapal Tertahan, 1.300 Nelayan Terancam Menganggur

Pelabuhan Kejawanan Cirebon
Ratusan kapal nelayan bersandar di Pelabuhan Perikanan Kejawanan, Kota Cirebon
0 Komentar

CIREBON – Suasana di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kejawanan, Kota Cirebon, tampak lesu dan sunyi. Tidak ada deru mesin kapal maupun kesibukan awak kabin yang biasanya mewarnai dermaga. Sejauh mata memandang, lebih dari 100 kapal nelayan bertonase besar hanya terparkir rapat, menciptakan pemandangan dermaga yang “mati suri” akibat krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar subsidi.

Lumpuhnya aktivitas melaut ini bukan tanpa konsekuensi. Berdasarkan pantauan di lapangan pada Rabu (15/4/2026), krisis bahan bakar ini telah memicu efek domino yang mengancam mata pencaharian sekitar 1.300 Anak Buah Kapal (ABK). Tanpa pasokan solar yang mencukupi, ribuan pekerja sektor perikanan ini terpaksa berdiam diri di darat tanpa penghasilan pasti.

Defisit Pasokan yang Mencekik Nelayan

Ketua Himpunan Nelayan Kota Cirebon, Karsudin, mengungkapkan bahwa akar permasalahan terletak pada ketimpangan antara kuota yang diberikan dengan kebutuhan riil operasional kapal di laut. Saat ini, nelayan hanya mampu mendapatkan alokasi sekitar 15 Kiloliter (KL) per kapal dari pihak Pertamina.

Baca Juga:Rekrutmen CPNS 2026: Pemerintah Matangkan Formasi dan Prioritaskan Fresh GraduatePemerintah Buka Rekrutmen Besar-besaran 35.476 Pengelola Koperasi Desa dan Kampung Nelayan Merah Putih

“Kami mengapresiasi bantuan 15 KL yang masih disalurkan Pertamina. Namun, secara teknis itu jauh dari cukup. Satu kapal memerlukan sedikitnya 24 KL untuk satu kali perjalanan melaut dengan durasi empat hingga lima bulan,” ujar Karsudin saat ditemui di kawasan Pelabuhan Kejawanan, Rabu (15/4/2026).

Menurut Karsudin, kapal dengan kapasitas di bawah 30 Gross Tonnage (GT) memang masih mendapatkan akses solar subsidi, namun jumlahnya yang terbatas membuat nelayan tidak memiliki pilihan selain menambatkan kapalnya. Defisit sekitar 9 KL per kapal inilah yang menjadi pembatas utama bagi mereka untuk berangkat mencari ikan.

Penumpukan Kapal dan Ancaman Pengangguran

Akibat ketersediaan bahan bakar yang tidak memadai, penumpukan kapal di dermaga kini telah berlangsung selama hampir satu bulan. Situasi ini bukan hanya mengganggu arus lalu lintas di pelabuhan, tetapi juga menciptakan krisis ekonomi bagi keluarga nelayan.

Karsudin merinci, setiap kapal rata-rata membawa 13 orang ABK. Dengan lebih dari 100 kapal yang berhenti beroperasi, praktis ada lebih dari 1.300 tenaga kerja yang kehilangan momentum mencari nafkah di laut.

“Kondisi ini sudah berlangsung hampir sebulan. Kapal menumpuk, aktivitas ekonomi berhenti. Jika tidak segera ada solusi, angka pengangguran di sektor perikanan Cirebon akan meningkat tajam secara signifikan,” tegasnya.

0 Komentar