Puncak Bandung Digital Safety Forum 2026 ditandai dengan pernyataan sikap bersama bertajuk Aman Digital 2026.
Dalam deklarasi tersebut, seluruh peserta menyepakati tiga komitmen utama.
Pertama, melawan segala bentuk kejahatan siber untuk melindungi data pribadi dan transaksi digital.Kedua, mencegah penyalahgunaan kecerdasan buatan, termasuk praktik deepfake dan voice cloning yang berpotensi digunakan untuk penipuan serta manipulasi identitas.Ketiga, mewujudkan ekosistem digital yang aman bagi masyarakat dan UMKM.
Komitmen tersebut mengusung semangat “Dari Bandung Hari Ini, untuk Semua” dengan tema “Ruang Digital Aman di Era AI: Mitigasi Risiko, Perlindungan Transaksi Digital dan Penguatan Kepercayaan Publik”.
Baca Juga:Sumedang Jadi Sorotan Nasional, Inovasi Digitalisasi 92 Desa Berbuah Penghargaan di BDSF 2026Sambut BSMSS 2026, Serang Kulon Disiapkan Jadi Pusat Pembangunan Infrastruktur Tani dan Pemberdayaan Warga
Penyelenggaraan forum ini juga mendapat dukungan lintas sektoral dari Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Pemerintah Kota Bandung, Pemerintah Kabupaten Sumedang, BRI, Dinas Perhubungan Jawa Barat, bank bjb, Bank Indonesia, BJB Syariah, Otoritas Jasa Keuangan, MUJ, dan Semen Kujang.
Keterlibatan pemerintah, regulator, perbankan, serta dunia usaha tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi digital, meningkatkan keamanan transaksi, dan membangun kesadaran masyarakat terhadap risiko kejahatan berbasis AI.
Nezar berharap forum ini menghasilkan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti, termasuk gerakan “Bandung Aman Digital” yang diluncurkan dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Pada akhirnya, keamanan ruang digital tidak cukup dibangun melalui regulasi dan teknologi. Kesadaran masyarakat, kemampuan mengenali modus kejahatan, serta keberanian melakukan verifikasi menjadi bagian penting dalam memutus rantai penipuan.
Kolaborasi lintas sektoral pun diharapkan menjadi langkah berkelanjutan untuk membangun ruang digital Jawa Barat dan Indonesia yang aman, cerdas, serta terpercaya. (red/rls)
