Trauma Kasus Keracunan Masih Membekas, Orang Tua Siswa SDN Taman Kalijaga Permai Sepakat Tolak Program MBG

Trauma Kasus Keracunan Masih Membekas, Orang Tua Siswa SDN Taman Kalijaga Permai Sepakat Tolak Program MBG
Rapat guru dan wali murid SDN Taman Kalijaga Permai Kota Cirebon sepakat menolak menu MBG.
0 Komentar

CIREBON — Gelombang penolakan terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mengemuka di Kota Cirebon. Mayoritas orang tua murid di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Taman Kalijaga Permai, Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, secara tegas menyatakan penolakan terhadap berlanjutnya program tersebut pasca-insiden gangguan kesehatan massal yang menimpa ratusan siswa beberapa waktu lalu.

Rasa trauma yang mendalam atas musibah keracunan makanan tersebut menjadi alasan utama para wali murid enggan mempertaruhkan kembali keselamatan buah hati mereka. Pengalaman pahit menyaksikan anak-anak terbaring di rumah sakit akibat mual dan muntah parah membuat kepercayaan publik terhadap jaminan keamanan pangan program MBG berada di titik terendah.

Perwakilan wali murid SDN Taman Kalijaga Permai mengungkapkan bahwa kekhawatiran orang tua sangat beralasan. Dampak psikologis dan fisik yang dialami para siswa pasca-konsumsi paket makanan MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat masih membekas kuat, sehingga mereka lebih memilih untuk menyiapkan bekal makanan sendiri dari rumah.

Baca Juga:Berantas Penyakit Masyarakat, Polres Cirebon Kota Sita 442 Botol Miras dari Warung di LemahwungkukDugaan Korupsi Dana APBDes dan Kompensasi PDAM: Kepala Desa Paniis Kuningan Terancam 20 Tahun Penjara

“Kondisi psikologis anak-anak dan ketakutan kami sebagai orang tua belum sepenuhnya pulih. Kami tidak ingin risiko serupa terulang kembali. Untuk saat ini, kami sepakat menolak program MBG dan lebih tenang jika anak-anak membawa bekal sendiri dari rumah yang sudah pasti terjamin kebersihan serta keamanannya,” ujar salah satu perwakilan orang tua murid.

Sikap tegas dari para wali murid ini menjadi respons langsung atas peristiwa mengejutkan yang sempat melumpuhkan aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut. Sebelumnya, sebanyak 264 orang—terdiri dari 228 anak-anak dan 36 orang dewasa—mengalami gangguan kesehatan serius usai mengonsumsi makanan program MBG. Insiden skala besar ini memaksa 176 korban menjalani perawatan rawat inap di delapan fasilitas kesehatan, sementara 88 korban lainnya menjalani rawat jalan.

Besarnya jumlah korban yang didominasi oleh anak-anak sekolah dasar tersebut bahkan membuat pihak sekolah bersama Dinas Pendidikan setempat sempat mengambil keputusan darurat untuk meliburkan sementara kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di SDN Taman Kalijaga Permai.

Dari perspektif tata kelola dan pengawasan, desakan penolakan ini menjadi evaluasi krusial bagi pemerintah daerah serta instansi penanggung jawab program MBG. Meskipun Dinas Kesehatan Kota Cirebon menyatakan puluhan unit SPPG telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan menekankan pentingnya prosedur pengetesan makanan di tingkat sekolah, ketakutan para orang tua membuktikan bahwa standardisasi di atas kertas belum cukup untuk memulihkan rasa aman masyarakat.

0 Komentar