KABUPATEN CIREBON — Krisis infrastruktur yang dibiarkan menahun memaksa warga Kabupaten Cirebon mengambil langkah ekstrem. Frustrasi akibat akses jalan yang tak kunjung tersentuh perbaikan total selama 18 tahun, warga Desa Kroya, Desa Karanganyar, dan Desa Lemahtamba terpaksa bergotong royong menggalang dana swadaya hingga mencapai Rp400 juta demi memperbaiki jalan rusak di wilayah mereka.
Inisiatif mandiri ini bermula dari puncak kekecewaan masyarakat terhadap penanganan pemerintah yang dinilai tidak solutif. Tokoh warga setempat, H. Sanuri, mengungkapkan bahwa warga sudah sangat lama menanti perbaikan menyeluruh. Namun, ketika proyek perbaikan akhirnya direalisasikan, ruas jalan yang ditangani ternyata hanya sepanjang 200 meter.
“Kami sudah terlalu lama menunggu. Sekian tahun berharap, ternyata cuma dibangun 200 meter. Ini benar-benar mengecewakan,” ujar Sanuri.
Baca Juga:Prabowo Resmikan 204 Satuan Baru TNI, Perkuat Pertahanan Lewat 6 Kodam dan Ratusan BatalyonTekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Bantuan Pendidikan Jabar Sakola
Menurut Sanuri, kerusakan parah dengan kondisi jalan yang menyerupai kubangan atau balong tidak sekadar menghambat mobilitas, melainkan telah menjadi ancaman keselamatan serius. Kelompok yang paling terpukul adalah para pedagang pindang lokal yang setiap hari harus melintas membawa barang dagangan demi menyambung hidup. Tak sedikit dari mereka yang mengalami kecelakaan tunggal akibat menghindari lubang jalan.
“Kasihan, mereka dapat modal dari utang, malah kecelakaan di jalan. Dagangannya rusak, belum lagi harus mengganti sepeda yang rusak,” ungkapnya.
Sebelum memutuskan menggalang dana besar-besaran, warga sebetulnya telah rutin berpartisipasi menambal jalan secara swadaya menggunakan batu dan pasir setiap tahunnya. Kendati demikian, perbaikan darurat tersebut tidak pernah bertahan lama setelah diguyur hujan dan dilindas kendaraan berat.
Tak ingin terus menerus menggantungkan nasib pada penanganan yang lamban, warga akhirnya membuka posko donasi mandiri yang dipusatkan di Masjid Kroya dan Masjid Karanganyar. Di luar dugaan, solidaritas publik melonjak tinggi di mana dana sebesar Rp300 juta berhasil terkumpul hanya dalam kurun waktu satu malam. Aliran donasi yang terus berdatangan dari warga lokal serta empat desa tetangga akhirnya menggenapkan total dana swadaya hingga menyentuh angka Rp400 juta.
Dana tersebut langsung dialokasikan untuk membiayai material bangunan serta pengecoran badan jalan secara bertahap sesuai dengan kemampuan anggaran yang terkumpul. Sanuri menegaskan, gerakan ini murni wujud kepedulian masyarakat demi mendambakan infrastruktur yang aman bagi keselamatan anak-anak sekolah dan para pedagang.
