Peran yang dimainkan oleh masing-masing tersangka pun tergolong variatif namun saling menopang satu sama lain dalam struktur jaringan. Mulai dari aktor intelektual yang menginisiasi konsolidasi, pihak yang bertanggung jawab atas penyebaran narasi propaganda, hingga eksekutor lapangan yang bertugas melakukan perekrutan anggota baru. Perekrutan tersebut dijalankan dengan metode ganda: pendekatan langsung secara personal di tengah masyarakat serta pemanfaatan masif platform media sosial untuk menjaring simpatisan muda.
Menanggapi langkah tegas ini, para pengamat keamanan menilai bahwa keberhasilan Densus 88 bukan sekadar penangkapan angka statistik semata, melainkan manifestasi dari strategi preemptive strike—pukulan pencegahan dini yang krusial. Pendekatan ini dinilai amat penting guna memotong rantai pasok logistik, ideologi, dan regenerasi teroris sebelum ancaman tersebut bertransformasi menjadi aksi kekerasan nyata yang merenggut nyawa masyarakat sipil.
Saat ini, tim penyidik Densus 88 Antiteror Polri masih terus mengembangkan penyidikan secara intensif. Langkah hukum lanjutan berupa penggeledahan, penyitaan barang bukti, serta pemeriksaan mendalam terhadap para saksi dan tersangka terus dikebut guna membongkar akar jaringan yang lebih luas, termasuk kemungkinan keterlibatan pihak-pihak lain di balik layar. (red/dbs)
