Senada dengan hal tersebut, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Cirebon, dr. Hj. Sulfianty Irfan, M.M., menyoroti pentingnya kewaspadaan dini terhadap potensi penularan penyakit. Menurutnya, penguatan fungsi surveilans, pengendalian penyakit, serta edukasi publik yang konsisten merupakan benteng pertahanan paling efektif dalam memitigasi risiko wabah.
“Pengendalian penyakit memerlukan keakuratan data melalui surveilans yang ketat serta kecepatan intervensi di lapangan. Kami terus mendorong optimalisasi peran puskesmas dan jejaring kesehatan di bawah agar setiap potensi kasus dapat ditangani seketika sebelum meluas menjadi masalah kesehatan yang besar bagi masyarakat Kota Cirebon,” ungkap dr. Hj. Sulfianty Irfan, M.M.
Dalam konteks teknis pelaksanaan Bulan Imunisasi Kejar, dr. Sulfianty menjelaskan bahwa layanan difokuskan secara merata melalui jaringan pelayanan kesehatan terpadu, mulai dari Puskesmas, Posyandu, hingga pos pelayanan strategis lainnya dengan memprioritaskan vaksin dasar lanjutan seperti DPT-HB-Hib serta polio.
Baca Juga:Pengurus INAKI Jawa Barat Periode 2026–2029 Resmi Dikukuhkan, Perkuat Profesionalisme Analis KebijakanPemprov Jabar Raih Predikat Terbaik I dalam Penghargaan Pembangunan Daerah 2026
“Sistem layanan kesehatan kami di lapangan telah disiagakan secara optimal untuk melayani masyarakat, sehingga para orang tua tidak perlu ragu untuk membawa anak-anak mereka melengkapi vaksinasi yang terlewat,” tambahnya.
Ia juga menegaskan Upaya optimalisasi kekebalan tubuh anak tidak boleh dilakukan setengah-setengah dan harus mematuhi tenggat waktu medis yang tepat agar efektivitas vaksin bekerja secara maksimal. Ketepatan waktu dalam melengkapi dosis vaksinasi menjadi penentu utama dalam menangkal berbagai risiko infeksi berbahaya sejak dini. Terkait pentingnya disiplin tahapan usia tersebut.
“Prinsip dasar perlindungan anak kita sangat jelas: kejar sebelum usia satu tahun, dan tuntaskan secara paripurna sebelum anak menginjak usia dua tahun agar kekebalan tubuhnya terbentuk sempurna,” pungkasnya.
Dari perspektif kebijakan publik dan sosiologis, langkah taktis yang ditempuh Dinas Kesehatan Kota Cirebon ini mencerminkan pergeseran paradigma dari kuratif menuju preventif. Pendekatan terpadu ini dinilai jauh lebih efektif dalam jangka panjang untuk melindungi masyarakat dari ancaman penyakit menular. Melalui sinergi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat, Pemkot Cirebon optimis target Indikator Kinerja Utama (IKU) di bidang kesehatan dapat tercapai guna mewujudkan masyarakat Cirebon yang bugar, produktif, dan berdaya saing. (red)
