Mahasiswa Geruduk Kantor Pemerintah Tuntut Pengusutan Tuntas Tragedi Maut Pohon Tumbang Di Sukalila

Aksi mahasiswa usut tragedi maut pohon tumbang Sukalila
Aliansi mahasiswa mendesak aparat penegak hukum dan pemerintah kota untuk tidak menutup mata terkait potensi adanya pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) dalam proyek revitalisasi Sungai Sukalila.
0 Komentar

CIREBON — Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi gerakan pemuda turun ke jalan menggelar aksi demonstrasi , menuntut pemerintah kota Cirebon dan pihak terkait untuk bertanggung jawab penuh atas insiden maut pohon tumbang di kawasan Jembatan Sukalila, Jalan K.S. Tubun.

Kejadian tersebut merenggut nyawa seorang pengendara sepeda motor akibat tertimpa pohon besar di area proyek tersebut dinilai bukan sekadar musibah alam murni, melainkan buah dari kelalaian terstruktur dalam mitigasi keselamatan publik dan pengawasan infrastruktur kota.

Tragedi itu terjadi di kawasan Jembatan Sukalila, Kamis (20/8/2026). Muhammad Faris (51) bersama istrinya, Titin (44), tengah melintas menggunakan sepeda motor ketika pohon akasia di tepi jalan tumbang dan menimpa kendaraan mereka.

Baca Juga:Menakar Daya Saing Rumah Sakit Pelat Merah: DPRD Cirebon Ungkap Resep Jitu Hadapi Gempuran RS SwastaNapas Baru Tata Kota Cirebon: Lampu Hijau Pembangunan Flyover Krucuk dan Kesambi Resmi Dikantongi

Faris sempat mendapatkan perawatan medis setelah kejadian. Namun, nyawanya tidak tertolong. Sementara Titin mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Koordinator lapangan aksi, Sanggam, meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cirebon memberikan penjelasan mengenai kondisi dan pemeliharaan pohon di kawasan publik, Senin (24/8/2026).

Tuntutan diarahkan kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung. Mahasiswa meminta penjelasan mengenai prosedur keselamatan pekerjaan di sekitar lokasi kejadian.

Mereka menyoroti aktivitas alat berat di kawasan sungai saat pohon akasia tumbang. Namun, mahasiswa meminta persoalan tersebut ditelusuri lebih lanjut untuk memastikan hubungan antara aktivitas proyek dan kejadian.

“BBWS harus memberikan penjelasan mengenai standar keselamatan pekerjaan di lokasi. Kami ingin kronologi kejadian diperiksa secara jelas,” ujar Sanggam.

Dalam orasinya yang membakar semangat massa, perwakilan aliansi mahasiswa tersebut mendesak aparat penegak hukum dan pemerintah kota untuk tidak menutup mata. Mereka menuntut investigasi menyeluruh guna menguak potensi adanya pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) dalam proyek penataan kawasan yang diduga melemahkan struktur akar pohon perindang di lokasi kejadian.

“Kami menuntut keadilan bagi korban dan keluarga yang ditinggalkan. Tragedi di Sukalila ini adalah alarm keras atas buruknya pengawasan tata kota. Pemerintah tidak boleh cuci tangan dan menganggap ini takdir semata tanpa mengevaluasi faktor kelalaian manusia,” ungkapnya.

0 Komentar