JAKARTA – Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global, pemerintah Indonesia menyatakan optimisme tinggi terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional. Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai angka 6 persen pada akhir tahun 2026, menyusul capaian positif pada semester pertama tahun ini.
Dalam pidato kenegaraan pada Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Jakarta, Jumat (14/8/2026), Presiden mengungkapkan bahwa ekonomi Indonesia telah menunjukkan resiliensi yang signifikan. Sepanjang semester I-2026, ekonomi nasional tercatat tumbuh 5,45 persen, sebuah angka yang diklaim sebagai pencapaian tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
“Dengan kebijakan-kebijakan yang tepat, yang rasional, dan menggunakan akal sehat, saya yakin pertumbuhan ekonomi kita di akhir tahun ini bisa mencapai angka 6 persen,” ujar Presiden Prabowo di hadapan para wakil rakyat.
Baca Juga:Warga Pangenan Rayakan HUT ke-81 RI dengan Aksi Nyata dan Semangat KebersamaanDewata Challenge 2026: Bali United, Persib, dan Sabah FC Saling Uji Jelang Musim Baru
Kekuatan UMKM dan Ekonomi Desa
Presiden menekankan bahwa pertumbuhan yang impresif ini tidak terlepas dari peran vital sektor ekonomi kerakyatan. Baginya, ekonomi desa, koperasi, dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah “jangkar” yang menjaga stabilitas nasional.
Prabowo mencontohkan ketangguhan UMKM saat menghadapi krisis moneter 1998 silam. Menurutnya, ketika korporasi besar berguguran, ekonomi kerakyatan justru menjadi penopang yang menyelamatkan negara. Oleh karena itu, pemerintah saat ini fokus pada penguatan konektivitas desa serta digitalisasi koperasi.
“Kami membangun Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih sebagai pusat ekonomi rakyat. Per hari ini, sudah 10.000 koperasi beroperasi, dan 3.300 di antaranya telah berjalan secara optimal dengan sistem digital terpusat,” paparnya.
Investasi dan Lapangan Kerja
Selain pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga mencatat kinerja investasi yang menggembirakan. Sepanjang tahun 2025, realisasi investasi mencapai Rp1.931 triliun yang menyerap lebih dari 2,7 juta tenaga kerja. Tren tersebut berlanjut pada semester I-2026 dengan realisasi sebesar Rp1.010 triliun, menciptakan 1,4 juta lapangan kerja baru.
Namun, Presiden menegaskan bahwa angka-angka pertumbuhan dan nilai investasi bukanlah tujuan akhir. “Bagi saya, pertumbuhan dan investasi bukan tujuan akhir. Tujuan kita adalah kesejahteraan rakyat kita,” tegasnya.
Stabilitas di Tengah Geopolitik
Ketahanan ekonomi Indonesia juga mendapatkan apresiasi dari Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Meski dihadapkan pada eskalasi konflik geopolitik, kenaikan harga komoditas strategis, serta volatilitas pasar keuangan global, kondisi fiskal dan moneter Indonesia dinilai tetap terjaga. Sinergi antarotoritas—Kemenkeu, Bank Indonesia, OJK, dan LPS—menjadi kunci mitigasi dalam menghadapi risiko ketidakpastian ekonomi global ke depan.
